Iya, isu tuyul.
Semua bermula dari kisah seorang pedagang pasar. Seperti biasa, ia berangkat sekitar jam dua dini hari. Jalan masih sepi, lampu penerangan tak semuanya menyala, dan suasana memang mendukung untuk pikiran ke mana-mana. Di tengah perjalanan, katanya, ia melihat anak kecil berlari-lari di tengah jalan. Rambutnya acak-acakan, gerakannya cepat, lalu belok ke arah pertigaan. Saat dilihat lagi di pertigaan itu, anak kecil tersebut menghilang begitu saja.
Cerita itu berhenti di situ, tapi dampaknya tidak. Dalam hitungan jam, satu kampung heboh. Obrolan di warung kopi berubah arah. Grup WhatsApp keluarga ramai notifikasi. Mulai muncul dugaan-dugaan, saling tebak, bahkan saling mengaitkan dengan orang-orang tertentu. Yang awalnya cuma cerita penglihatan dini hari, perlahan berubah jadi kecurigaan kolektif.
Di titik ini, rasanya banyak orang bisa bilang, “Ini gue banget.” Bukan karena percaya atau tidak percaya soal tuyulnya, tapi karena familiar dengan polanya. Satu cerita, satu kejadian yang belum tentu jelas, lalu berkembang sesuai imajinasi dan ketakutan bersama. Apalagi di kampung, di mana cerita mistis sudah seperti bagian dari tradisi lisan.
Konflik batin mulai muncul saat melihat bagaimana cerita itu mengubah sikap orang. Ada yang jadi takut keluar malam. Ada yang mulai menjaga barang-barangnya berlebihan. Bahkan ada yang diam-diam mulai menilai tetangganya sendiri. Seolah-olah, rasa aman bisa runtuh hanya karena satu cerita yang belum tentu benar.
Yang menarik, jarang ada yang bertanya, apa mungkin pedagang itu kelelahan? Apa mungkin cahaya minim, mata mengantuk, dan pikiran sudah lebih dulu dipenuhi cerita-cerita lama? Pertanyaan semacam itu kalah cepat dibandingkan bisik-bisik dan prasangka. Cerita mistis memang punya daya tarik sendiri, lebih seru, lebih dramatis, dan entah kenapa terasa lebih “masuk akal” saat suasana mendukung.
Isu tuyul ini bukan cuma soal percaya atau tidak percaya pada hal gaib. Lebih dari itu, ini soal bagaimana manusia merespons ketidakpastian. Saat ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan cepat, kita cenderung mencari makna bersama, meski kadang makna itu dibangun dari asumsi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!