Skip to main content

Kenapa Kakek Nenek Lebih Lembut ke Cucu? Antara Penyesalan, Waktu, dan Cara Menebus Masa Lalu

 


Ada pola yang sering disadari banyak orang tapi jarang dibicarakan terang-terangan. Kakek nenek yang sekarang terlihat sangat sabar dengan cucunya, dulu dikenal keras saat membesarkan anak-anaknya. Cerita seperti ini muncul di banyak keluarga. Bahkan kadang diucapkan sambil bercanda,“Dulu ayah galak sekali, sekarang sama cucu jadi malaikat.”

Yang tumbuh dengan cerita itu sering menyimpan tanda tanya. Kok bisa berubah sejauh itu?

Bagi anak-anaknya dulu, masa kecil mungkin terasa penuh aturan, suara tinggi, dan disiplin ketat. Lalu bertahun-tahun kemudian, orang yang sama terlihat memanjakan cucu tanpa banyak syarat. Kesalahan kecil ditertawakan. Tangisan cepat ditenangkan. Tidak ada lagi nada keras yang dulu begitu akrab.

Perubahan ini bukan sekadar soal usia. Ada sesuatu yang bergeser di dalam diri manusia ketika waktu berjalan panjang.

Menjadi orang tua di usia muda sering diwarnai tekanan: ekonomi belum stabil, emosi belum matang, tanggung jawab datang bertubi-tubi. Banyak generasi sebelumnya membesarkan anak dalam mode bertahan hidup. Disiplin keras dianggap satu-satunya cara memastikan anak kuat menghadapi dunia. Tidak banyak ruang untuk refleksi atau pendekatan lembut.

Ketika mereka menjadi kakek nenek, hidup sudah berada di fase berbeda. Tidak lagi dikejar target karier. Tidak lagi panik soal biaya sekolah. Ada jarak waktu yang memberi perspektif. Di situlah sering muncul rasa yang tidak selalu diucapkan, penyesalan halus.

Bukan penyesalan dramatis, tapi kesadaran pelan bahwa dulu mungkin terlalu keras. Terlalu cepat marah. Terlalu sibuk bertahan sampai lupa menikmati masa kecil anak-anaknya sendiri. Dan cucu datang seperti kesempatan kedua, bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk memperbaiki rasa.

Sebagian orang menafsirkan kebaikan itu sebagai usaha “menabung pahala” menjelang akhir hidup. Ada keyakinan spiritual yang membuat seseorang ingin lebih lembut, lebih sabar, lebih murah hati. Dan itu bukan hal yang aneh. Mendekati usia senja sering membuat manusia lebih akrab dengan pertanyaan tentang makna, ampunan, dan harapan setelah hidup selesai.

Tapi mungkin motivasinya tidak sesederhana mengejar surga. Bisa jadi ini soal rekonsiliasi batin. Cara diam-diam berdamai dengan versi diri yang lebih muda. Cara mengatakan, tanpa kata-kata, seandainya dulu bisa begini…

Yang menarik, cucu tidak pernah melihat versi lama itu. Mereka hanya mengenal kakek nenek yang hangat. Sementara anak-anaknya menyimpan dua memori sekaligus: kerasnya masa lalu dan lembutnya masa kini. Di situlah muncul campuran rasa, antara iri kecil, heran, dan akhirnya pengertian.

Waktu memang mengubah banyak hal. Ia mengikis ego, melunakkan sudut tajam, dan memperlihatkan bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi amarah terus-menerus.

Mungkin kebaikan di usia tua bukan semata strategi spiritual atau rasa takut akan kematian. Bisa jadi itu bentuk kedewasaan yang datang terlambat, tapi tetap berharga. Bukti bahwa manusia masih bisa berubah, bahkan di bab akhir hidupnya.

Dan melihat perubahan itu, ada pelajaran sunyi yang tertinggal, kalau kelembutan bisa dipelajari di usia senja, mungkin ia juga bisa dipraktikkan lebih awal, tanpa harus menunggu penyesalan dulu.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...