Skip to main content

Ketika Lagu Lawas Dinyanyikan Ulang


Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang.

Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman.

Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”. 

Tidak salah, tentu. 

Musik selalu berputar dan saling meminjam. Tapi ada kalanya rasa itu muncul, kok seperti dipaksakan ya?

Yang terasa mengganggu bukan nostalgia-nya, melainkan cara nostalgia itu dijual. Lagu lawas yang dulu jujur dengan zamannya, kini seolah dipaksa relevan. Seakan-akan ada ketakutan untuk benar-benar menciptakan sesuatu yang baru, lalu memilih jalan aman, meminjam memori orang lain.

Menariknya, banyak orang justru menyukai versi ulang itu. Mereka merasa lebih dekat, lebih ringan, lebih sesuai dengan suasana sekarang. Dan di titik ini, mau tidak mau harus diakui, selera memang berbeda. Musik bukan soal benar atau salah. Ia soal rasa, pengalaman, dan waktu hidup masing-masing pendengarnya.

Mungkin ketidaknyamanan ini lebih tentang posisi sebagai pendengar. Ada fase ketika seseorang tidak lagi mencari lagu yang ramai diputar, tapi lagu yang terasa tulus. Lagu yang tidak berusaha terlalu keras untuk disukai. Lagu yang tidak perlu viral dulu baru terdengar layak.

Dan di situlah jarak mulai terasa. Antara musik yang ingin didengar, dan musik yang sedang diproduksi. Antara nostalgia yang datang dengan sendirinya, dan nostalgia yang dikemas sebagai strategi.

Pada akhirnya, tidak ada kewajiban untuk menyukai semua cover lagu atau tren musik sekarang. Sama seperti tidak ada kewajiban untuk membenci mereka. Setiap orang membawa ingatannya sendiri saat mendengar sebuah lagu. Dan ketika ingatan itu terasa diusik, bukan disentuh, reaksinya wajar, tidak nyaman.

Mungkin ini bukan soal lagu lawas atau musik kekinian. Ini soal kejujuran rasa. Soal membiarkan musik hadir apa adanya, tanpa harus memaksa semua orang untuk ikut merasa. Karena dalam urusan selera, yang paling melelahkan bukan perbedaan, melainkan ketika perbedaan itu dianggap masalah.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...