Skip to main content

Menulis Bukan Lagi demi Jabatan Fungsional, tapi demi Bertahan sebagai Manusia


Ada satu anggapan yang sering muncul diam-diam, kalau seseorang rajin menulis, pasti ada motif formal di belakangnya. Entah karena tuntutan pekerjaan, target angka kredit, atau sekadar kewajiban jabatan fungsional. Logis, sih. Di banyak lingkungan kerja, menulis memang identik dengan laporan, publikasi wajib, dan administrasi yang harus diselesaikan tepat waktu.

Masalahnya, asumsi itu sering meleset jauh.

Di luar sana, banyak orang menulis bukan karena jabatan, tapi karena tidak punya pilihan lain untuk bertahan. Menulis jadi cara paling masuk akal untuk tetap waras di tengah sistem yang kaku. Tapi hal ini jarang terlihat dari luar. Yang tampak hanya produktivitas, bukan motif di baliknya.

Konflik batin muncul ketika orang lain mengira semua tulisan itu lahir dari ambisi struktural. Seolah setiap paragraf hanya alat untuk naik tingkat, mengejar pengakuan, atau mengamankan posisi. Padahal kenyataannya, ketika seseorang benar-benar menulis karena jabatan fungsional, tulisannya justru sangat minimalis, sekadar memenuhi syarat, cukup untuk laporan, selesai urusan.

Kalau motifnya hanya jabatan, tidak akan ada eksplorasi. Tidak ada coba-coba. Tidak ada kegagalan yang diulang. Yang ada hanya tulisan aman, sesuai template, dan tidak lebih. Prinsipnya jelas, yang penting masuk hitungan.

Titik baliknya justru terjadi ketika harapan pada jabatan itu dilepaskan. Saat sudah “menyerah” dalam arti yang paling jujur, berhenti menggantungkan harga diri dan masa depan pada sistem tersebut. Di situ, motif menulis berubah total. Tidak lagi transaksional, tapi personal. Tidak lagi untuk dinilai, tapi untuk dimaknai.

Menulis kemudian menjadi ruang eksperimen. Mencoba gaya. Mencoba sudut pandang. Mencoba jujur, meski tidak selalu rapi. Ada kegagalan, ada tulisan yang tidak dibaca, ada yang disalahpahami. Tapi justru dari proses coba-coba itulah lahir sesuatu yang terasa hidup.

Ketika tidak lagi butuh pengakuan formal, menulis justru menemukan napasnya. Tidak ada tekanan untuk “berguna” secara struktural. Yang ada hanya keinginan untuk mengeluarkan sesuatu yang menumpuk di kepala dan dada. Dan anehnya, di titik itu, hasilnya sering kali lebih kuat.

Barangkali ini yang sulit dipahami banyak orang. Bahwa menyerah pada jabatan fungsional bukan berarti menyerah pada kualitas. Justru sebaliknya. Itu tanda bahwa seseorang sudah tidak lagi menulis demi sistem, tapi demi dirinya sendiri. Demi proses.

Tidak semua produktivitas harus punya legitimasi jabatan. Ada orang-orang yang menulis karena itu satu-satunya cara mereka tetap merasa utuh sebagai manusia. Dan ketika motifnya sudah sampai ke sana, anggapan orang lain, mau salah besar atau tidak, perlahan kehilangan kuasanya.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...