Ada fase dalam hidup rumah tangga yang jarang diceritakan dengan jujur, salah satunya, ngajarin pasangan nyetir mobil. Kedengarannya sepele, tapi kalau sudah dijalani, rasanya campur aduk. Deg-degan, capek, pengin ketawa tapi juga pengin teriak. Dan yang paling sering muncul, “Kok bisa ya, hal sesederhana ini susah banget?”
Sejak akhir tahun kemarin sampai sekarang, proses belajar nyetir itu masih jalan di tempat. Fokus utamanya sebenarnya cuma satu: stop and go. Gas pelan, lepas kopling, rem halus. Teorinya sederhana, bahkan kelihatan remeh. Tapi entah kenapa, tiap diulang, polanya seperti baru pertama kali. Sudah dijelasin pelan-pelan, dicontohin, dipraktikkan, eh… lupa lagi.
Di titik ini, banyak yang mungkin langsung merasa, “Ini gue banget.” Duduk di kursi penumpang, kaki refleks ikut injak rem, tangan siap pegang handle pintu. Bukan karena tidak percaya, tapi karena takut. Takut mobil mati mendadak, takut nyelonong, takut bikin panik orang lain. Dan jujur saja, takut emosi sendiri.
Konflik batinnya muncul ketika suara mulai meninggi. Bukan marah besar, tapi nada yang berubah. Padahal niat awalnya baik, pengin pasangan bisa mandiri, pengin berbagi peran, pengin sama-sama nyaman kalau harus ke mana-mana. Tapi setiap kali teknik stop and go diulang dan hasilnya masih sama, sabar itu seperti diuji terus-menerus.
Belum lagi soal belok. Teori “lihat arah roda, putar setir secukupnya” seolah menguap begitu saja begitu praktik. Belok terlalu cepat, atau malah kurang, bikin mobil nyaris makan jalur. Di situ, kepala rasanya panas. Ada rasa heran bercampur lelah, kok bisa sih, susah banget?
Di tengah semua itu, muncul satu pikiran yang akhirnya terasa paling masuk akal, mungkin memang sudah waktunya ikut kursus mengemudi. Bukan karena menyerah, tapi karena sadar batas. Ada hal-hal yang lebih baik diajarkan oleh orang yang tidak punya beban emosional. Instruktur kursus tidak membawa ekspektasi rumah tangga. Mereka tidak menyimpan rasa kesal yang dipendam sejak latihan sebelumnya.
Ngajarin istri nyetir ternyata bukan soal teknik mengemudi semata. Ini soal kesabaran, komunikasi, dan mengenali kapan harus mundur selangkah. Kadang, cinta itu bukan bertahan di kursi penumpang sambil menahan emosi, tapi memberi ruang agar proses belajar berjalan lebih sehat.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!