Orang introvert bisa berbaur. Bahkan sering kali terlihat biasa saja di keramaian. Bisa ngobrol, bisa bercanda, bisa ikut rapat panjang, bahkan bisa tampil percaya diri kalau situasi menuntut. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda sedang berjuang.
Masalahnya bukan pada kemampuan berbaur. Masalahnya ada di energi.
Setelah semua itu selesai, rasanya seperti baterai yang tiba-tiba drop ke nol persen. Tubuh masih duduk di tempat yang sama, tapi kepala sudah lelah duluan. Percakapan yang tadinya terasa ringan mendadak terasa berat saat diingat ulang. Dan yang paling menguras bukan topik besar, tapi hal kecil yang disebut basa-basi.
Basa-basi itu unik. Tidak penting, tapi wajib. Tidak dalam, tapi panjang. Pertanyaan yang jawabannya sudah bisa ditebak, tawa yang terasa dipaksakan, komentar yang harus tetap sopan meski tidak ada yang benar-benar ingin dibahas. Di sinilah introvert sering merasa paling capek.
Bukan karena membenci orang. Bukan karena anti sosial. Tapi karena interaksi yang terasa tidak jujur menguras energi lebih cepat daripada percakapan yang bermakna. Ngobrol serius satu jam bisa terasa lebih ringan daripada tiga puluh menit basa-basi yang muter di tempat.
Ironisnya, banyak introvert belajar beradaptasi dengan sangat baik. Mereka tahu kapan harus bicara, kapan harus tersenyum, kapan harus merespons. Bahkan sering dianggap ramah dan mudah bergaul. Tapi setelah itu, ada kebutuhan diam yang tidak bisa ditawar. Bukan drama, bukan ngambek, itu cara isi ulang.
Di titik ini sering muncul salah paham. Ketika introvert mulai menarik diri, orang mengira sedang marah, sombong, atau tidak nyaman dengan lingkungan. Padahal yang terjadi lebih sederhana, baterainya habis.
Yang menarik, kebutuhan menyendiri ini bukan penolakan terhadap dunia sosial. Justru sebaliknya. Itu cara supaya tetap bisa kembali besok dan berfungsi normal. Tanpa jeda, interaksi akan terasa semakin berat, dan lama-lama berubah jadi beban yang tidak perlu.
Mungkin yang membuat lelah bukan keramaiannya, tapi tuntutan untuk terus tampil “on”. Terus responsif. Terus hangat. Padahal manusia, introvert atau bukan, tidak dirancang untuk aktif tanpa henti.
Ada fase ketika menerima diri sebagai introvert terasa melegakan. Bukan untuk membatasi diri, tapi untuk memahami ritme energi sendiri. Bahwa bisa berbaur tidak berarti harus selalu berbaur. Bahwa diam bukan kegagalan sosial, tapi kebutuhan biologis yang wajar.
Kalau setelah acara ramai rasanya ingin menghilang sebentar, itu bukan tanda aneh. Itu hanya tubuh yang meminta ruang. Dan memberi ruang pada diri sendiri sering kali adalah cara paling jujur untuk tetap bisa hadir di dunia, tanpa kehilangan tenaga di dalamnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!