Ada kalimat-kalimat yang terdengar lembut, bahkan terasa menenangkan. Diucapkan dengan nada peduli, dibungkus empati, dan sering diselipkan di tengah obrolan yang katanya demi kebaikan bersama. “Sudahlah, jangan terlalu tinggi standarnya.” “Kasihan, kan mereka juga manusia.” “Yang penting jalan dulu.”
Sekilas, tidak ada yang salah.
Masalahnya, kalimat seperti itu jarang datang sekali dua kali. Ia diulang. Terus diulang. Di ruang rapat, di percakapan santai, di keputusan-keputusan kecil yang lama-lama membentuk arah besar. Pelan-pelan, tanpa terasa, sesuatu berubah.
Belas kasihan mulai menggantikan penilaian. Toleransi mulai menggeser standar. Dan yang awalnya disebut pengecualian, lama-lama jadi kebiasaan.
Di titik tertentu, muncul rasa janggal. Kenapa hal yang dulu dianggap tidak layak, sekarang diterima begitu saja? Kenapa kualitas yang dulu diperjuangkan, kini dianggap terlalu idealis? Jawabannya sering sama, jangan keras-keras, jangan tinggi-tinggi, nanti menyakiti.
Inilah bentuk pencucian otak yang paling halus. Bukan dengan paksaan, tapi dengan rasa iba. Bukan dengan ancaman, tapi dengan narasi “kemanusiaan”. Standar bukan diturunkan secara terbuka, tapi dilarutkan sedikit demi sedikit sampai nyaris tak terlihat.
Yang mengkhawatirkan bukan satu keputusan lunak, tapi polanya. Ketika alasan yang sama dipakai berkali-kali, lama-lama orang berhenti bertanya. Berhenti mengukur. Berhenti berharap. Semua dianggap relatif, semua bisa dimaklumi.
Di lingkungan kerja, ini terasa nyata. Target dianggap terlalu ambisius. Evaluasi disebut tidak berempati. Kritik dilabeli tidak punya hati. Akhirnya, yang bertahan bukan yang kompeten, tapi yang paling pandai berlindung di balik alasan.
Ironisnya, standar sering dituduh sebagai sumber ketidakadilan. Padahal, tanpa standar, justru ketidakadilan tumbuh subur. Orang yang berusaha keras disamakan dengan yang asal jalan. Yang konsisten dipaksa mengalah demi yang tidak siap.
Belas kasihan memang penting. Tapi belas kasihan tanpa batas bisa jadi alat pembenaran. Ia membuat kegagalan terasa wajar, mediokritas terasa normal, dan penurunan kualitas terasa manusiawi.
Yang paling berbahaya, semua ini jarang terasa sebagai masalah di awal. Justru terasa nyaman. Tidak ada konflik. Tidak ada ketegangan. Semua saling memahami. Sampai suatu hari disadari, arah sudah jauh melenceng, dan tak ada lagi patokan untuk kembali.
Standar bukan soal kejam atau tidak berperasaan. Standar adalah penanda arah. Ia memberi tahu ke mana seharusnya melangkah. Menurunkannya terus-menerus demi menjaga perasaan, sama saja membiarkan semua orang berjalan tanpa kompas.
Refleksi ini bukan ajakan untuk menjadi keras tanpa empati. Tapi juga bukan pembenaran untuk melunakkan segalanya. Ada ruang di mana empati dan standar bisa berdampingan, asal tidak saling meniadakan.
Karena ketika standar benar-benar hilang, yang tersisa bukan kedamaian. Yang tersisa adalah kebingungan, kelelahan, dan pertanyaan yang datang terlambat, sejak kapan kita berhenti menuntut yang seharusnya?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!