Skip to main content

Percaya Diri yang Perlahan Kembali

 


Ada fase dalam hidup ketika rasa percaya diri tidak benar-benar hilang, tapi seperti mengecil. Masih ada, cuma suaranya pelan. Kita tetap datang ke tempat ramai, tetap berinteraksi seperlunya, tapi di dalam kepala rasanya seperti menarik diri setengah langkah ke belakang. Tidak sepenuhnya menghilang, hanya memilih aman. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan terang-terangan.

Di fase itu, muncul di hadapan orang lain terasa melelahkan. Bukan karena benci bertemu manusia, tapi karena ada beban tak kasat mata: takut salah bicara, takut dinilai, takut tidak cukup pantas untuk terlihat. Akhirnya, yang dilakukan hanya seperlunya. Datang kalau perlu. Bicara kalau ditanya. Sisanya, mengamati dari kejauhan.

Menariknya, perubahan jarang datang dalam bentuk lonjakan besar. Tidak ada momen dramatis yang langsung membuat semuanya kembali seperti dulu. Yang ada justru proses bertahap. Pelan-pelan. Hampir tidak terasa. Sampai suatu hari sadar, “Oh, ternyata sekarang lebih sering muncul ya.”

Awalnya cuma hal kecil. Berani hadir di satu acara tanpa banyak alasan untuk kabur lebih cepat. Mulai nyaman berdiri di tengah obrolan, meski belum banyak bicara. Tidak lagi sibuk mengatur ekspresi sendiri di kepala. Hadir apa adanya, dengan canggung yang masih tersisa, tapi tidak lagi menekan dada.

Konflik batinnya tetap ada. Rasa ragu itu belum sepenuhnya pergi. Ada hari-hari ketika kepercayaan diri terasa naik, lalu turun lagi keesokan harinya. Dan itu sering bikin kesal. Rasanya ingin cepat “sembuh”. Ingin kembali ke versi diri yang dulu terasa lebih ringan. Tapi kenyataannya, proses tidak pernah linier.

Di titik itu, ada satu kesadaran kecil yang cukup membantu: percaya diri tidak selalu berarti merasa hebat. Kadang, itu cuma tentang berani muncul meski masih takut. Tetap datang meski belum sepenuhnya yakin. Tidak menunggu 100 persen siap untuk mulai terlihat.

Pelan-pelan, kehadiran di depan orang lain tidak lagi terasa seperti ujian. Mulai muncul rasa nyaman yang tipis, tapi nyata. Bukan percaya diri yang berisik, bukan yang penuh pembuktian. Lebih seperti keyakinan sunyi, “Aku boleh ada di sini.” Dan ternyata, itu sudah cukup.

Mungkin selama ini yang dibutuhkan bukan dorongan keras untuk berubah, tapi ruang aman untuk tumbuh. Bahwa menarik diri sesaat bukan kegagalan, melainkan jeda. Dan bahwa kembali muncul, sekecil apa pun langkahnya, adalah bentuk keberanian.

Sekarang, tingkat percaya diri itu memang belum seratus persen. Masih ada sisa ragu. Masih ada hari ingin menghilang. Tapi dibandingkan sebelumnya, ada kemajuan yang jujur. Lebih sering terlihat. Lebih sering hadir. Lebih jarang bersembunyi.

Dan mungkin, begitulah seharusnya. Percaya diri bukan tombol on-off, tapi proses yang dibangun pelan-pelan. Tidak selalu stabil, tapi terus bergerak. Selama masih mau melangkah, sekecil apa pun, itu sudah tanda bahwa diri ini sedang pulang ke versi yang lebih utuh.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...