Hampir di setiap tempat kerja, selalu ada satu tipe orang yang keberadaannya jarang disadari. Mereka tidak duduk di posisi struktural tertentu, tidak punya jabatan pengawas, tapi entah kenapa selalu tahu banyak hal. Bukan cuma soal pekerjaan, tapi juga urusan pribadi orang lain. Cara kerjanya halus, rapi, dan sering dibungkus niat baik. Kalau kamu pernah merasa, “Kok cerita ini bisa sampai ke mana-mana ya?”, mungkin kamu sudah pernah bersinggungan dengan polisi moral di kantor.
Awalnya, mereka terlihat ramah ke semua orang. Mudah menyapa, sering bercanda, dan kelihatan netral. Tidak pernah terang-terangan menghakimi. Justru itu yang bikin orang lengah. Kita merasa aman bercerita, merasa sedang ngobrol biasa, tanpa sadar sedang membuka potongan kecil hidup yang nantinya bisa dirangkai jadi cerita versi mereka.
Yang menarik, polisi moral di tempat kerja jarang muncul di depan layar. Mereka bekerja di belakang. Tidak pernah secara langsung melapor atau menegur. Tapi tiba-tiba, ada saja bisik-bisik. Ada atasan yang “kebetulan” menyinggung isu tertentu. Ada rekan kerja yang mendadak berubah sikap. Semua disampaikan dengan nada tidak langsung, seolah-olah ini suara bersama, bukan suara satu orang.
Konflik batin mulai muncul ketika kita sadar, ada keramaian yang tercipta tanpa pernah ada pelaku yang mengaku. Saat ditanya, mereka akan berkata, “Ini bukan soal siapa yang cerita, tapi biar jadi pembelajaran bersama.” Kalimat yang terdengar dewasa, bahkan bijak. Padahal di balik itu, ada peran aktif menyebarkan narasi, mengarahkan persepsi, dan membentuk opini diam-diam.
Di titik ini, rasanya campur aduk. Antara kesal, kecewa, dan bingung. Kesal karena merasa dikhianati. Kecewa karena niat baik kita dibalas dengan gosip berbungkus moral. Bingung karena tidak tahu harus menghadapi siapa. Mereka tidak pernah tampil sebagai pelaku. Tidak ada yang bisa dikonfrontasi secara langsung.
Tidak semua orang yang bicara soal etika benar-benar ingin menjaga etika. Ada yang menggunakan moral sebagai alat kontrol sosial. Dengan dalih “agar tidak terulang,” mereka merasa sah membicarakan kesalahan orang lain. Padahal, niat mencegah tidak selalu harus dilakukan dengan menyebarkan cerita.
Dari pengalaman itu, pelajaran paling nyata adalah soal batas. Di tempat kerja, kedekatan bukan berarti keamanan. Tidak semua obrolan harus dibagi. Tidak semua cerita perlu diceritakan. Bukan karena kita tertutup, tapi karena menjaga diri juga bagian dari bertahan secara profesional.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!