Skip to main content

Ambisi dan Mati


 Akhir-akhir ini aku sering merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan yang aneh, bukan persimpangan besar yang dramatis, tapi lebih seperti jalan kecil yang tiba-tiba membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Usia, rupanya, punya caranya sendiri untuk mengetuk kesadaran. Tidak keras, tidak juga menakutkan, hanya pelan… tapi cukup untuk membuat hati bertanya, “Sudah sejauh apa aku berjalan?”

Lucunya, meski angka umur terus bertambah, ada bagian dalam diriku yang seperti menolak untuk benar-benar tua. Aku masih ngeyel ingin melakukan banyak hal sendiri. Masih merasa kuat, masih ingin bergerak, masih percaya bahwa selama kaki bisa melangkah, kenapa harus bergantung? Bahkan untuk urusan kecil sekalipun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Ah, ini mah masih bisa.”

Padahal tubuh kadang sudah memberi kode halus, mudah lelah, butuh waktu lebih lama untuk pulih, atau sekadar ingin duduk lebih lama setelah aktivitas. Tapi, ya begitu… ada gengsi kecil yang mungkin tidak terlihat, namun nyata terasa. Bukan gengsi pada orang lain, lebih kepada diri sendiri. Seolah aku belum siap jika harus berdamai dengan kenyataan bahwa tenaga tidak lagi sama seperti dulu.

Beberapa hari terakhir, ada pikiran yang datang lalu pergi begitu saja: tentang mati.

Bukan pikiran gelap yang menakutkan, bukan pula sesuatu yang terus menghantui. Hanya seperti awan tipis yang melintas di langit, terlihat sebentar, lalu larut. Kadang muncul saat malam mulai tenang, kadang justru ketika sedang melakukan hal biasa. Tiba-tiba saja terlintas, “Usiaku sudah tidak muda lagi, ya.”

Aneh rasanya mengakui kalimat itu, bahkan dalam hati.

Pikiran tersebut tidak membuatku cemas berlebihan. Lebih seperti pengingat kecil bahwa hidup ini ada batasnya. Bahwa cepat atau lambat, setiap orang akan sampai di garis akhir, hanya waktunya saja yang menjadi rahasia.

Dari situ, pelan-pelan muncul pertanyaan lain: selama ini, apa yang sebenarnya sedang kukejar?

Haruskah semuanya tentang dunia? Tentang pencapaian, rencana, target, dan daftar keinginan yang seolah tidak pernah habis? Rasanya semakin ke sini, hati justru ingin sesuatu yang lebih tenang. Lebih bermakna. Bukan berarti tiba-tiba ingin meninggalkan semuanya, tapi ada dorongan untuk mulai menata ulang arah.

Meski begitu, di sisi lain aku sadar masih ada beberapa rencana yang belum berhasil kulakukan. Impian-impian kecil yang sudah lama kusimpan, hal-hal yang dulu sempat kutunda karena berbagai alasan. Dan entah kenapa, semakin terasa waktu berjalan, semakin muncul keinginan untuk tetap mengejarnya.

Bukan dengan tergesa-gesa.

Bukan juga dengan ambisi yang meledak-ledak.

Lebih seperti berjalan pelan, tapi tetap maju.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...