Ada jenis lapar yang bisa diselesaikan dengan segelas air dan sepiring nasi hangat, dan ada jenis lapar lain yang tidak tahu harus diberi apa agar ia diam. Setiap Ramadan, aku selalu merasa sedang berdamai dengan dua-duanya, lapar fisik yang jelas terasa di perut, dan lapar hati yang kadang muncul tanpa suara.
Menjelang sore, tubuh mulai memberi sinyal. Kepala sedikit berat, tenggorokan kering, langkah terasa lebih lambat. Itu wajar. Semua orang yang berpuasa merasakannya. Tinggal menunggu adzan, lalu selesai. Tapi belakangan ini, ada rasa lain yang tidak ikut hilang saat azan maghrib berkumandang. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski perut sudah kenyang.
Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Mencari percakapan yang lebih hangat. Mencari tatapan yang lebih lama. Mencari perhatian kecil yang bisa membuat hari terasa lebih berarti. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dada yang ingin diisi, tapi aku sendiri belum benar-benar tahu namanya.
Kadang aku menyalahkan keadaan. Mungkin karena Ramadan membuat segalanya terasa lebih hening. Jam makan berkurang, aktivitas berubah, malam lebih panjang dengan doa-doa yang dilangitkan pelan-pelan. Di sela keheningan itu, suara hati terdengar lebih jelas. Dan ternyata, ia tidak selalu dalam kondisi kenyang.
Aku perhatikan, setiap kali rasa kosong itu muncul, aku cenderung membuka ponsel lebih sering. Mengecek pesan yang mungkin tidak ada. Mengulang percakapan lama yang sebenarnya biasa saja. Bahkan sesekali berharap ada notifikasi dari seseorang yang kehadirannya bisa mengusir sepi. Padahal jika dipikir-pikir, bukan dia yang benar-benar kucari. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak sendirian di ruang yang terasa luas ini.
Lucunya, lapar hati ini tidak sejelas lapar fisik. Ia tidak berteriak. Ia hanya berbisik. Kadang hadir dalam bentuk gelisah kecil, kadang dalam bentuk keinginan untuk diperhatikan. Dan sering kali, aku baru sadar setelah semuanya terjadi, setelah aku merasa terlalu berharap, terlalu menunggu, terlalu mengaitkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum tentu.
Apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Bisa jadi. Karena ketika hati merasa kurang, ia akan berusaha menemukan pengganti. Seperti orang yang berjalan di pasar saat lapar, semua terlihat menggoda, semua terasa ingin dicoba. Padahal belum tentu benar-benar dibutuhkan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!