Skip to main content

Antara Lapar Fisik dan Lapar Hati


Ada jenis lapar yang bisa diselesaikan dengan segelas air dan sepiring nasi hangat, dan ada jenis lapar lain yang tidak tahu harus diberi apa agar ia diam. Setiap Ramadan, aku selalu merasa sedang berdamai dengan dua-duanya, lapar fisik yang jelas terasa di perut, dan lapar hati yang kadang muncul tanpa suara.

Menjelang sore, tubuh mulai memberi sinyal. Kepala sedikit berat, tenggorokan kering, langkah terasa lebih lambat. Itu wajar. Semua orang yang berpuasa merasakannya. Tinggal menunggu adzan, lalu selesai. Tapi belakangan ini, ada rasa lain yang tidak ikut hilang saat azan maghrib berkumandang. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski perut sudah kenyang.

Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Mencari percakapan yang lebih hangat. Mencari tatapan yang lebih lama. Mencari perhatian kecil yang bisa membuat hari terasa lebih berarti. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dada yang ingin diisi, tapi aku sendiri belum benar-benar tahu namanya.

Kadang aku menyalahkan keadaan. Mungkin karena Ramadan membuat segalanya terasa lebih hening. Jam makan berkurang, aktivitas berubah, malam lebih panjang dengan doa-doa yang dilangitkan pelan-pelan. Di sela keheningan itu, suara hati terdengar lebih jelas. Dan ternyata, ia tidak selalu dalam kondisi kenyang.

Aku perhatikan, setiap kali rasa kosong itu muncul, aku cenderung membuka ponsel lebih sering. Mengecek pesan yang mungkin tidak ada. Mengulang percakapan lama yang sebenarnya biasa saja. Bahkan sesekali berharap ada notifikasi dari seseorang yang kehadirannya bisa mengusir sepi. Padahal jika dipikir-pikir, bukan dia yang benar-benar kucari. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak sendirian di ruang yang terasa luas ini.

Lucunya, lapar hati ini tidak sejelas lapar fisik. Ia tidak berteriak. Ia hanya berbisik. Kadang hadir dalam bentuk gelisah kecil, kadang dalam bentuk keinginan untuk diperhatikan. Dan sering kali, aku baru sadar setelah semuanya terjadi, setelah aku merasa terlalu berharap, terlalu menunggu, terlalu mengaitkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum tentu.

Apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Bisa jadi. Karena ketika hati merasa kurang, ia akan berusaha menemukan pengganti. Seperti orang yang berjalan di pasar saat lapar, semua terlihat menggoda, semua terasa ingin dicoba. Padahal belum tentu benar-benar dibutuhkan.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...