Ada kebiasaan kecil yang diam-diam kulakukan setiap kali ia berada dalam jarak pandang, memandangnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Bukan menatap tanpa sopan, bukan pula dengan keberanian yang terang-terangan. Hanya cukup lama untuk menyimpan garis wajahnya, cara ia bergerak, dan ekspresi yang kadang sulit dijelaskan itu ke dalam ingatan. Seolah-olah otakku adalah ruang arsip, dan aku sedang memastikan bahwa bayangannya tersimpan rapi di sana, agar bisa kupanggil kembali kapan saja, bahkan ketika ia tak ada.
Namun begitu ia menoleh dan mata kami hampir bertemu, refleksku selalu sama, pura-pura melihat ke arah lain. Kadang ke jendela, kadang ke ponsel, kadang bahkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak menarik sama sekali. Apa saja, asal bukan dirinya. Ada perasaan aneh yang membuatku belum siap tertangkap basah, semacam keinginan untuk tetap tersembunyi, menjaga perasaan ini tetap menjadi rahasia yang hanya kupahami sendiri.
Padahal jauh di dalam hati, aku sering merasa ia tahu.
Ada bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata, dan kurasa kami sedang berbicara dalam bahasa itu. Cara ia sesekali membiarkan pandanganku jatuh padanya tanpa terlihat terganggu, atau bagaimana ia tampak tidak tergesa memalingkan wajah, semua itu seperti isyarat halus. Tidak jelas, tidak tegas, tapi cukup untuk membuat hatiku bertanya-tanya.
Dan yang paling membuat dadaku bergetar pelan, terkadang ia justru mendekat.
Bukan mendekat dengan alasan yang bisa disebut terang-terangan, melainkan seperti seseorang yang tanpa sadar memilih jarak yang lebih pendek. Langkahnya membawa kehadirannya sedikit lebih nyata, sedikit lebih terasa. Kami tetap tidak menyapa. Tidak ada kalimat pembuka, tidak juga percakapan ringan yang biasa dilakukan dua orang asing yang ingin saling mengenal.
Hanya diam.
Namun diam itu tidak kosong.
Ada semacam arus tenang yang mengalir di antara kami, nyaris tak terlihat, tapi bisa dirasakan. Dalam momen-momen seperti itu, waktu sering terasa melambat. Keramaian di sekitar berubah menjadi latar samar, dan dunia seolah mengecil hanya pada satu titik tempat ia berdiri.
Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikirannya. Mungkin baginya ini biasa saja. Mungkin ia hanya bersikap ramah pada dunia. Atau mungkin, meski aku tidak berani berharap terlalu jauh, ia juga menyadari keberadaanku dengan cara yang sama sunyinya.
Aneh ya, bagaimana kebahagiaan kadang lahir dari sesuatu yang begitu sederhana.
Melihatnya saja sudah cukup membuat hariku terasa lebih ringan. Seperti ada cahaya kecil yang menyala tanpa perlu alasan besar. Tidak gaduh, tidak meledak-ledak, hanya hangat. Kehadirannya menjadi semacam jeda di tengah rutinitas, ruang napas yang tidak kusadari kubutuhkan.
Jika harus jujur, ia seperti endorfin bagi hari-hariku, hormon bahagia yang datang tanpa diundang, bekerja diam-diam, lalu meninggalkan rasa tenang yang sulit digantikan apa pun. Bahkan setelah ia pergi dari pandangan, sisa perasaan itu masih tinggal cukup lama, menemani langkahku pulang.
Aku tidak menuntut apa-apa dari perasaan ini. Tidak meminta ia berubah menjadi kisah besar, tidak juga memaksanya menemukan akhir tertentu. Ada ketenangan dalam mencintai tanpa gaduh, dalam mengagumi tanpa harus memiliki. Barangkali tidak semua rasa diciptakan untuk menjadi cerita bersama; beberapa cukup menjadi puisi yang dibaca pelan-pelan oleh hati sendiri.
Dan entah sampai kapan kebiasaan ini akan berlangsung, saling melihat tanpa benar-benar bertemu, saling menyadari tanpa pernah mengucap. Tapi untuk sekarang, rasanya sudah lebih dari cukup.
Sebab kadang, dalam hidup yang sering tergesa, kita hanya membutuhkan satu alasan kecil untuk merasa bahagia.
Dan bagiku, alasan itu… adalah dia, yang mungkin tak pernah tahu betapa hadirnya telah membuat hari-hariku berpendar lebih lama.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!