Sepertinya puasa kali ini kami tidak akan bertemu lagi. Jadwal kami berubah, seperti dua jarum jam yang dulu sempat berpapasan di satu titik, lalu kembali berjalan di porosnya masing-masing. Tempat biasa itu mungkin tetap ramai, tetap menyimpan cahaya sore yang sama, tetapi tanpa pertemuan yang tak disengaja, semuanya terasa berbeda. Tidak ada lagi kemungkinan tatapan singkat setelah salam, tidak ada lagi jeda beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
Awalnya aku mengira ini tidak akan terlalu berpengaruh. Toh, hubungan kami tak pernah benar-benar ada. Tidak ada janji, tidak ada sapaan yang rutin, apalagi cerita panjang yang mengikat. Hanya kebiasaan melihat dan dilihat, sebuah ritme kecil yang diam-diam menjadi bagian dari hariku. Namun ketika kusadari bahwa bulan ini mungkin tak ada kesempatan untuk sekadar berpapasan, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih nyata.
Anehnya, aku juga tidak yakin pada hatiku sendiri.
Aku tidak tahu apakah nanti, ketika Ramadan usai dan jadwal kembali seperti semula, perasaanku masih akan memilihnya. Atau justru sudah ada bayangan lain yang menempati ruang itu. Hatiku pintar sekali membolak-balikkan rasa. Ia seperti angin yang tak bisa ditebak arahnya—kadang berembus lembut dan setia pada satu arah, kadang berputar tanpa aba-aba, meninggalkan yang tadi terasa begitu penting.
Sudah beberapa kali aku mengalami hal semacam ini. Merasa yakin hari ini, lalu esoknya biasa saja. Seakan-akan rasa itu hanya singgah sebentar untuk memberi warna, lalu pergi tanpa pamit. Dan setiap kali itu terjadi, aku hanya bisa tersenyum kecut pada diri sendiri. Betapa mudahnya aku terhanyut, betapa cepatnya aku juga bisa kehilangan.
Karena itu, kali ini aku tak berani bersumpah apa-apa. Tidak berani mengatakan bahwa aku akan tetap menunggunya dalam diam. Tidak berani pula memastikan bahwa aku akan benar-benar melupakan. Aku membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri. Jika perasaan ini memang kuat, ia akan bertahan meski tak diberi pertemuan. Jika ia hanya ilusi sesaat, mungkin jarak ini justru menjadi penyaring yang jujur.
Di sela-sela kesibukan puasa, aku mencoba mengisi hari dengan hal lain. Pekerjaan, keluarga, rutinitas kecil yang sering kali terlupakan ketika pikiranku sibuk menunggu momen kebetulan. Dan perlahan aku sadar, hidup tetap berjalan baik-baik saja tanpa harus ada sosok yang diam-diam kunanti. Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang benar-benar hilang.
Namun tetap saja, ada saat-saat tertentu—menjelang berbuka, atau ketika malam mulai hening—bayangannya datang tanpa diminta. Bukan sebagai rindu yang menyakitkan, melainkan sebagai kenangan yang ringan. Seperti lagu lama yang tak sengaja terputar di kepala. Aku tidak mengejarnya, tapi juga tidak menolaknya.
Mungkin memang begini cara hatiku bekerja. Ia tidak suka dipaksa. Ia datang dan pergi sesuka hati. Dan aku, mau tak mau, harus belajar berdamai dengan sifatnya yang mudah berubah.
Jika nanti kami bertemu lagi setelah puasa, aku akan melihat apakah masih ada getar yang sama. Jika tidak, mungkin itu tanda bahwa rasa ini memang hanya singgah. Dan jika masih ada, mungkin saat itulah aku harus memutuskan—apakah akan terus membiarkannya menjadi bayangan, atau akhirnya memberinya bentuk yang lebih nyata.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!