Aku menyebutnya cinta sepihak. Bukan karena ingin terdengar tragis, juga bukan untuk mengasihani diri sendiri. Hanya saja, memang begitulah bentuknya, rasa yang tumbuh sendirian, berbunga di dalam dada tanpa pernah benar-benar berpindah ke tangan yang lain. Ia hadir tanpa undangan, menetap tanpa izin, lalu mengisi hari-hariku dengan cara yang kadang tak bisa dijelaskan logika.
Awalnya biasa saja. Hanya tatapan yang sedikit lebih lama dari seharusnya. Hanya sapaan yang terasa lebih hangat dari yang lain. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menunggu. Menunggu momen yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Menunggu kebetulan yang mungkin hanya kebetulan baginya, tapi menjadi peristiwa kecil yang kurayakan diam-diam.
Aku tahu ini tidak seimbang. Aku yang merasa lebih dulu, aku yang menafsir lebih jauh. Ia mungkin hanya menjalani harinya seperti biasa, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang menjadikannya pusat dari banyak adegan dalam kepala. Dan di situlah letak sepihaknya, aku berjalan beberapa langkah di depan, sementara ia bahkan belum tentu tahu bahwa ada perjalanan yang sedang dimulai.
Anehya, aku tidak sepenuhnya merasa tersiksa. Ada getir, tentu saja. Ada malam-malam ketika aku bertanya pada diri sendiri, untuk apa semua ini? Tapi ada juga kebahagiaan yang sederhana. Melihatnya dari kejauhan saja kadang sudah cukup membuat hariku terasa lebih ringan. Seolah-olah rasa itu sendiri menjadi sumber energi, semacam rahasia kecil yang hanya aku yang tahu.
Aku tidak menuntut apa-apa darinya. Tidak berharap ia membalas dengan kadar yang sama. Mungkin karena jauh di dalam hati, aku sadar bahwa rasa ini adalah pilihanku sendiri. Aku yang membiarkannya tumbuh. Aku yang merawatnya dengan bayangan dan harapan kecil. Jadi jika suatu hari ia tak berbalas, siapa yang bisa kusalahkan selain diriku?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!