Ini bukan pertama kalinya aku berada di titik seperti ini.
Sudah beberapa kali sebelumnya aku merasa disukai. Tatapan yang terasa berbeda, perhatian yang tampak lebih dari biasa, sikap yang membuatku berpikir, “Mungkin kali ini benar.” Di saat yang sama, aku pun merasa menyukai dan mencintai. Rasanya hangat, mengalir, meyakinkan.
Namun berkali-kali pula aku harus menerima kenyataan bahwa semua itu hanya perasaanku saja.
Tidak ada pengakuan. Tidak ada langkah nyata. Tidak ada keberanian yang benar-benar diwujudkan. Yang ada hanya tafsir dan harapan yang terlalu cepat tumbuh. Pada akhirnya, aku belajar bahwa hati ini mudah sekali tergerak, tapi dunia tidak selalu bergerak bersamanya.
Barangkali karena itulah, ketika perasaan serupa datang lagi, untuk kesekian kalinya, aku tidak lagi terburu-buru menamainya.
Ada getar yang sama, ada rasa yang pelan-pelan memenuhi ruang hari-hariku. Tapi kali ini aku memilih diam. Bukan karena tidak peduli, bukan juga karena takut sepenuhnya. Lebih karena aku ingin memastikan bahwa yang kurasakan bukan sekadar kilat yang menyala sesaat, lalu padam tanpa bekas.
Diam menjadi caraku menjaga diri.
Aku tidak lagi ingin menjadi orang yang terlalu cepat memberi makna pada setiap senyum atau perhatian kecil. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam cerita yang hanya hidup di kepalaku sendiri. Maka aku menunggu.
Jika memang ada rasa di antara kami, biarlah ia tumbuh perlahan. Biarlah waktu yang mengujinya. Bukankah cinta yang sungguh-sungguh tidak akan hilang hanya karena tidak segera disapa?
Kadang aku berpikir, mungkin yang paling sulit bukanlah mencintai, melainkan menahan diri untuk tidak segera menyimpulkan. Dunia sekarang serba cepat, orang ingin kepastian segera, jawaban instan, hubungan yang langsung jelas arahnya. Tapi aku justru ingin sebaliknya.
Aku ingin melihat apakah ia berani melangkah.
Aku ingin tahu apakah ia cukup yakin untuk mendekat, bukan hanya berdiri di wilayah abu-abu yang nyaman tapi tak pernah selesai.
Bukan karena aku ingin diuji, melainkan karena aku pun sedang menguji diriku sendiri. Apakah ini benar cinta? Ataukah hanya rasa kesepian yang kebetulan menemukan wajah untuk disinggahi?
Menunggu memang tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika aku ingin sekali memecah sunyi, menanyakan langsung, atau sekadar memberi isyarat lebih jelas. Tapi lalu aku teringat pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, betapa cepatnya rasa bisa berubah, betapa mudahnya harapan bisa runtuh.
Maka aku memilih bersabar.
Jika ia juga merasakan hal yang sama, ia akan menemukan jalannya. Jika tidak, maka setidaknya aku tidak lagi terjatuh oleh bayanganku sendiri.
Karena semakin dewasa, aku sadar satu hal, cinta yang benar tidak perlu dikejar dengan tergesa. Ia akan tetap tinggal, bahkan ketika kita memberi waktu untuk memastikannya.
Dan kali ini, aku ingin yakin, bahwa apa pun yang tumbuh di hatiku, bukan sekadar persinggahan sementara.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!