Skip to main content

Cukup untuk Kebetulan-Kebetulan yang Sering Kuromantisasi


Baiklah, akhirnya aku harus mengambil alih perasaanku sendiri. Rasanya seperti berdiri di depan cermin lalu berkata pelan, “cukup.” Bukan dengan marah, bukan dengan dramatis, tapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengendap. Selama ini aku terlalu membiarkan rasa berjalan tanpa tali kekang, membiarkannya mencari-cari celah, menafsirkan perhatian kecil menjadi sesuatu yang lebih besar, lalu berharap tanpa benar-benar berpijak.

Aku sadar, aku tidak boleh lagi membiarkan perasaan memainkan kendali atas seluruh perhatian yang kuterima. Tidak setiap tatapan adalah isyarat. Tidak setiap sapaan adalah pintu. Tidak setiap kebetulan adalah takdir yang sengaja dirancang semesta. Kadang itu hanya momen biasa yang oleh hatiku diubah menjadi luar biasa. Dan di situlah aku sering goyah.

Aku tahu betul betapa mudahnya hatiku tergelincir. Sedikit perhatian saja bisa membuatku merasa istimewa. Sedikit kedekatan bisa membuatku membangun cerita panjang di dalam kepala. Padahal realitasnya belum tentu sejauh itu. Aku ini, entah kenapa, selalu cepat menghangat, tapi juga cepat terbakar. Dan setiap kali api itu padam, yang tersisa hanya abu kecil yang harus kubersihkan sendiri.

Beberapa waktu terakhir aku seperti membiarkan diriku hanyut. Menikmati getar kecil yang muncul tanpa bertanya apakah itu sehat atau tidak. Ada sensasi menyenangkan ketika merasa diperhatikan, ketika merasa dipilih, meski mungkin hanya dalam bayanganku sendiri. Rasanya seperti mendapat suntikan semangat di sela-sela hari yang biasa saja. Tapi lama-lama aku sadar, jika terus dibiarkan, aku bisa kehilangan arah. Aku bisa menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum tentu nyata.

Maka malam itu, setelah sekian lama membiarkan perasaan berlari liar, aku mencoba duduk tenang. Mengurai satu per satu. Apa sebenarnya yang kucari? Pengakuan? Kehangatan? Atau sekadar ingin merasa berarti? Jika jawabannya iya, bukankah semua itu seharusnya bisa kutemukan tanpa harus menggantungkan diri pada satu sosok yang belum tentu mengerti isi kepalaku?

Aku tidak ingin menjadi orang yang mudah digoyahkan oleh angin kecil. Tidak ingin perhatianku terpecah hanya karena rasa penasaran yang manis. Hidup ini sudah cukup rumit tanpa harus ditambah drama batin yang sebenarnya bisa kucegah. Mengambil alih perasaan bukan berarti mematikannya. Bukan berarti menjadi dingin atau menutup diri. Tapi memberi batas. Memberi arah. Agar aku tetap berdiri di pusat kendaliku sendiri.

Karena pada akhirnya, yang paling bertanggung jawab atas hatiku adalah aku. Bukan dia. Bukan keadaan. Bukan juga kebetulan-kebetulan yang sering kuromantisasi. Jika aku tahu hatiku mudah goyah, maka tugasku adalah memperkuat pijakannya. Jika aku tahu aku mudah terbuai, maka tugasku adalah mengingatkan diri sendiri untuk tetap sadar.

Mungkin rasa itu masih akan datang lagi. Mungkin sesekali aku masih akan tergoda untuk membiarkannya bermain-main. Tapi sekarang setidaknya aku tahu, aku punya pilihan. Aku bisa berkata cukup sebelum terlalu jauh. Aku bisa tersenyum tanpa harus berharap berlebihan.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...