Baiklah, akhirnya aku harus mengambil alih perasaanku sendiri. Rasanya seperti berdiri di depan cermin lalu berkata pelan, “cukup.” Bukan dengan marah, bukan dengan dramatis, tapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengendap. Selama ini aku terlalu membiarkan rasa berjalan tanpa tali kekang, membiarkannya mencari-cari celah, menafsirkan perhatian kecil menjadi sesuatu yang lebih besar, lalu berharap tanpa benar-benar berpijak.
Aku sadar, aku tidak boleh lagi membiarkan perasaan memainkan kendali atas seluruh perhatian yang kuterima. Tidak setiap tatapan adalah isyarat. Tidak setiap sapaan adalah pintu. Tidak setiap kebetulan adalah takdir yang sengaja dirancang semesta. Kadang itu hanya momen biasa yang oleh hatiku diubah menjadi luar biasa. Dan di situlah aku sering goyah.
Aku tahu betul betapa mudahnya hatiku tergelincir. Sedikit perhatian saja bisa membuatku merasa istimewa. Sedikit kedekatan bisa membuatku membangun cerita panjang di dalam kepala. Padahal realitasnya belum tentu sejauh itu. Aku ini, entah kenapa, selalu cepat menghangat, tapi juga cepat terbakar. Dan setiap kali api itu padam, yang tersisa hanya abu kecil yang harus kubersihkan sendiri.
Beberapa waktu terakhir aku seperti membiarkan diriku hanyut. Menikmati getar kecil yang muncul tanpa bertanya apakah itu sehat atau tidak. Ada sensasi menyenangkan ketika merasa diperhatikan, ketika merasa dipilih, meski mungkin hanya dalam bayanganku sendiri. Rasanya seperti mendapat suntikan semangat di sela-sela hari yang biasa saja. Tapi lama-lama aku sadar, jika terus dibiarkan, aku bisa kehilangan arah. Aku bisa menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum tentu nyata.
Maka malam itu, setelah sekian lama membiarkan perasaan berlari liar, aku mencoba duduk tenang. Mengurai satu per satu. Apa sebenarnya yang kucari? Pengakuan? Kehangatan? Atau sekadar ingin merasa berarti? Jika jawabannya iya, bukankah semua itu seharusnya bisa kutemukan tanpa harus menggantungkan diri pada satu sosok yang belum tentu mengerti isi kepalaku?
Aku tidak ingin menjadi orang yang mudah digoyahkan oleh angin kecil. Tidak ingin perhatianku terpecah hanya karena rasa penasaran yang manis. Hidup ini sudah cukup rumit tanpa harus ditambah drama batin yang sebenarnya bisa kucegah. Mengambil alih perasaan bukan berarti mematikannya. Bukan berarti menjadi dingin atau menutup diri. Tapi memberi batas. Memberi arah. Agar aku tetap berdiri di pusat kendaliku sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling bertanggung jawab atas hatiku adalah aku. Bukan dia. Bukan keadaan. Bukan juga kebetulan-kebetulan yang sering kuromantisasi. Jika aku tahu hatiku mudah goyah, maka tugasku adalah memperkuat pijakannya. Jika aku tahu aku mudah terbuai, maka tugasku adalah mengingatkan diri sendiri untuk tetap sadar.
Mungkin rasa itu masih akan datang lagi. Mungkin sesekali aku masih akan tergoda untuk membiarkannya bermain-main. Tapi sekarang setidaknya aku tahu, aku punya pilihan. Aku bisa berkata cukup sebelum terlalu jauh. Aku bisa tersenyum tanpa harus berharap berlebihan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!