Skip to main content

Hidup di Antara Orang yang Tegas dan Orang peragu

 


Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan?

Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu,  mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri.

Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu.

Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya.

Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama seperti kita semua, “Bagaimana kalau gagal?”

Bedanya, mereka tidak membiarkan ketakutan duduk di kursi pengemudi.

Orang-orang seperti ini biasanya memahami satu hal penting, tidak ada keputusan yang benar-benar tanpa risiko. Tapi tidak memilih juga adalah risiko.

Melihat mereka kadang menyadarkan bahwa hidup memang terus bergerak. Terlalu lama diam hanya membuat kita tertinggal dari versi diri yang seharusnya bisa kita temui.

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang tampak kesulitan bahkan untuk memutuskan hal kecil. Bukan karena tidak peduli, tapi justru karena terlalu banyak mempertimbangkan.

Bagaimana kalau salah?
Bagaimana kalau orang lain tidak setuju?
Bagaimana kalau hasilnya buruk?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti sampai akhirnya waktu habis sebelum keputusan dibuat.

Jujurnya, posisi ini terasa lebih dekat dari yang ingin diakui.

Ada fase ketika memilih terasa begitu melelahkan. Kepala penuh simulasi kemungkinan. Hati tidak benar-benar yakin ke mana harus pergi. Akhirnya bukan keputusan yang diambil, melainkan penundaan.

Dan penundaan sering menyamar sebagai kehati-hatian.

Padahal bisa jadi itu hanya rasa takut yang belum diberi nama.

Berada di antara dua tipe manusia itu seperti bercermin dari sisi yang berbeda.

Dari mereka yang tegas, kita belajar tentang keberanian. Bahwa hidup tidak menunggu sampai kita siap sepenuhnya.

Dari mereka yang ragu, kita belajar tentang empati. Bahwa setiap orang punya pertarungannya sendiri di dalam kepala, yang sering tidak terlihat dari luar.

Lalu tanpa sadar muncul pertanyaan yang lebih jujur,  sebenarnya selama ini lebih sering berada di sisi yang mana?

Tegas?
Atau justru menunda?

Tidak ada jawaban yang sepenuhnya salah. Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah menjadi keduanya, tergantung situasi dan luka yang dibawa.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...