Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan?
Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal.
Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu, mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri.
Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu.
Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya.
Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama seperti kita semua, “Bagaimana kalau gagal?”
Bedanya, mereka tidak membiarkan ketakutan duduk di kursi pengemudi.
Orang-orang seperti ini biasanya memahami satu hal penting, tidak ada keputusan yang benar-benar tanpa risiko. Tapi tidak memilih juga adalah risiko.
Melihat mereka kadang menyadarkan bahwa hidup memang terus bergerak. Terlalu lama diam hanya membuat kita tertinggal dari versi diri yang seharusnya bisa kita temui.
Di sisi lain, ada juga orang-orang yang tampak kesulitan bahkan untuk memutuskan hal kecil. Bukan karena tidak peduli, tapi justru karena terlalu banyak mempertimbangkan.
Bagaimana kalau salah?
Bagaimana kalau orang lain tidak setuju?
Bagaimana kalau hasilnya buruk?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti sampai akhirnya waktu habis sebelum keputusan dibuat.
Jujurnya, posisi ini terasa lebih dekat dari yang ingin diakui.
Ada fase ketika memilih terasa begitu melelahkan. Kepala penuh simulasi kemungkinan. Hati tidak benar-benar yakin ke mana harus pergi. Akhirnya bukan keputusan yang diambil, melainkan penundaan.
Dan penundaan sering menyamar sebagai kehati-hatian.
Padahal bisa jadi itu hanya rasa takut yang belum diberi nama.
Berada di antara dua tipe manusia itu seperti bercermin dari sisi yang berbeda.
Dari mereka yang tegas, kita belajar tentang keberanian. Bahwa hidup tidak menunggu sampai kita siap sepenuhnya.
Dari mereka yang ragu, kita belajar tentang empati. Bahwa setiap orang punya pertarungannya sendiri di dalam kepala, yang sering tidak terlihat dari luar.
Lalu tanpa sadar muncul pertanyaan yang lebih jujur, sebenarnya selama ini lebih sering berada di sisi yang mana?
Tegas?
Atau justru menunda?
Tidak ada jawaban yang sepenuhnya salah. Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah menjadi keduanya, tergantung situasi dan luka yang dibawa.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!