Ada masa ketika tubuhku rajin bergerak, tapi hatiku seperti tertinggal di belakang. Aku berdiri ketika takbir dikumandangkan, rukuk dan sujud dengan hitungan yang pas, bibir melafalkan doa-doa yang sudah akrab sejak kecil, namun entah kenapa, rasanya seperti sedang menjalankan daftar tugas. Selesai satu, lanjut berikutnya. Rapi. Tertib. Tapi hampa.
Awalnya aku mengira itu hanya lelah biasa. Mungkin karena pekerjaan menumpuk, mungkin karena pikiran terlalu penuh. Tapi ketika momen itu berulang beberapa kali, terutama di Ramadan yang seharusnya lebih syahdu, aku mulai bertanya dalam hati: apakah ini hanya perasaanku saja, atau orang lain juga pernah mengalaminya?
Aku pernah duduk setelah salat, mencoba mengingat apa yang baru saja kubaca. Surat apa tadi? Doa apa yang kulantunkan? Kosong. Seperti lewat begitu saja tanpa sempat menyentuh dada. Gerakan ada, suara ada, tapi rasa tidak ikut hadir. Dan di situlah kegelisahan kecil itu muncul.
Aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang berpura-pura khusyuk di hadapan Tuhan. Padahal aku benar-benar ingin khusyuk. Aku ingin setiap ayat terasa hidup, setiap sujud terasa seperti pulang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, semuanya berjalan otomatis, seperti mesin yang sudah diprogram sejak lama.
Di satu sisi, aku bersyukur masih diberi kemampuan untuk tetap menjalankan ibadah. Bukankah konsistensi juga bagian dari kebaikan? Tapi di sisi lain, aku merindukan getar itu. Getar yang dulu pernah kurasakan ketika doa membuat mata basah tanpa dipaksa. Getar yang membuat dada terasa lapang hanya karena satu kalimat tasbih.
Apakah ini fase? Atau tanda ada yang perlu dibenahi?
Kadang aku berpikir, mungkin hatiku terlalu sibuk. Terlalu banyak memikirkan hal-hal duniawi, terlalu sering memelihara kekhawatiran, terlalu asyik dengan skenario-skenario dalam kepala. Ketika waktu ibadah tiba, tubuhku datang, tapi pikiranku masih berkeliaran. Maka wajar jika hati terasa tidak utuh.
Aku juga mulai sadar, mungkin selama ini aku terlalu fokus pada target, berapa juz, berapa rakaat, berapa kali sedekah, hingga lupa bahwa inti dari semuanya adalah kehadiran. Aku mengejar angka, tapi kehilangan rasa. Aku mengejar pencapaian, tapi lupa menikmati percakapan sunyi antara hamba dan Tuhannya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!