Skip to main content

Keluarga yang Tersisih


 Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita pahami, meski sudah berulang kali mencoba mencari jawabannya. Sampai sekarang, aku pun tidak tahu apakah ada kesalahan yang pernah kami lakukan pada mereka. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata tajam yang kuingat pernah terucap. Semuanya terasa biasa saja, sampai suatu hari hidup berubah, tepat setelah ibuku meninggal.

Sejak saat itu, pelan-pelan kami seperti bergeser ke pinggir lingkaran keluarga. Awalnya tidak terlalu terasa. Mungkin karena kami juga sedang sibuk berduka, belajar menerima kehilangan, dan menata ulang hidup tanpa sosok yang dulu menjadi pengikat banyak hal. Tapi lama-lama, ada pola yang mulai terlihat.

Kami tidak lagi diajak dalam kegiatan keluarga.

Bukan cuma sekali dua kali. Berkali-kali.

Setiap ada acara, entah kumpul sederhana, hajatan, atau sekadar makan bersama, kami sering baru tahu setelah semuanya lewat. Kadang dari cerita orang lain, kadang tanpa sengaja melihat foto yang beredar. Rasanya seperti datang terlambat ke sebuah pesta yang bahkan kita tidak tahu pernah diadakan.

Yang paling terasa justru ketika mereka pergi jalan-jalan bersama. Bukan perjalanan kecil, tapi rombongan besar yang melibatkan banyak anggota keluarga. Yang rumahnya dekat ikut. Yang tinggal jauh pun diusahakan datang. Bahkan beberapa yang jarang berkomunikasi tetap dihubungi.

Hanya keluargaku yang tidak.

Awalnya, aku banyak bertanya dalam hati. “Ada apa, ya?” “Apa kami tanpa sadar melakukan sesuatu?” Pikiran-pikiran seperti itu sering datang, terutama di malam yang sepi. Rasanya aneh ketika orang-orang yang dulu terasa dekat mendadak seperti memberi jarak, tanpa penjelasan, tanpa tanda.

Namun waktu punya caranya sendiri untuk menumpulkan rasa heran. Setelah kejadian serupa terulang beberapa kali, perlahan kami berhenti bertanya. Mungkin ini memang posisi baru kami dalam peta keluarga. Tidak di tengah, tapi juga tidak sepenuhnya hilang, hanya seperti tidak dianggap hadir.

Akhirnya kami belajar bersikap biasa saja.

Tidak diajak? Tidak apa-apa.

Tidak diberi tahu? Tidak masalah.

Hidup tetap berjalan. Kami masih bisa tertawa di rumah sendiri, masih bisa membuat kebersamaan versi kami tanpa harus menunggu undangan siapa pun. Ada ketenangan yang justru tumbuh ketika ekspektasi mulai dilepaskan.

Meski begitu, kalau jujur, tetap ada rasa sayang yang terselip. Bukan marah, bukan juga kecewa yang meledak-ledakm, lebih seperti perih kecil yang kadang terasa ketika tak sengaja tersentuh.

Apalagi ketika mengingat satu hal, mereka punya utang pada kami. Sudah bertahun-tahun lamanya. Kami tidak pernah mengejar-ngejar, tidak pernah menagih dengan suara keras. Bahkan hampir tidak pernah dibicarakan lagi. Bukan karena lupa, tapi mungkin karena kami percaya hubungan keluarga lebih berharga daripada sekadar hitungan angka.

Ironisnya, di tengah rencana perjalanan dan tawa kebersamaan itu, tidak pernah terlintas untuk sekadar mengingat kami. Bukan soal uangnya, sungguh. Lebih kepada rasa, seolah keberadaan kami tidak cukup penting untuk disapa.

Kadang aku berpikir, kehilangan ibuku bukan hanya meninggalkan ruang kosong di rumah, tapi juga mengubah banyak dinamika yang dulu terasa hangat. Ibu mungkin dulu adalah jembatan, yang menjaga hubungan tetap dekat, yang membuat kami selalu termasuk dalam daftar.

Setelah jembatan itu tiada, kami seperti berdiri di seberang tanpa ada yang benar-benar berusaha menyeberang.

Namun hidup mengajarkan satu hal sederhana, tidak semua jarak harus dipaksa untuk didekatkan. Ada kalanya kita cukup menerima, lalu fokus merawat orang-orang yang masih saling menggenggam.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...