Aku pernah berpikir bahwa semakin rapi sebuah rencana disusun, semakin besar pula kemungkinan ia berjalan mulus. Bukankah hidup sering diajarkan begitu? Buat target, hitung matang, siapkan semuanya dari jauh-jauh hari, lalu tinggal melangkah. Tapi semakin ke sini, aku justru sering melihat hal yang sebaliknya. Ada rencana yang sudah disiapkan dengan penuh kehati-hatian, tapi tetap saja berantakan di tengah jalan. Sementara keputusan yang lahir tiba-tiba, tanpa banyak drama, malah sampai ke tujuan dengan selamat.
Pengalaman soal umroh sepertinya jadi contoh paling nyata dalam hidupku.
Aku berangkat umroh tanpa persiapan yang panjang.
Keputusan untuk memberangkatkan kakakku dulu rasanya hampir spontan. Tidak terlalu banyak pertimbangan yang rumit. Ada rezekinya, ada jalannya, lalu berangkat. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air menemukan sungainya sendiri. Tidak banyak hambatan, tidak ada cerita berliku yang membuat dahi berkerut.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi ketika istri dan mertuaku berangkat umroh. Prosesnya terasa ringan. 1 bulan gak ada. Memang tetap ada persiapan, tapi tidak sampai membuat hati lelah duluan. Tanggal ditentukan, administrasi beres, kesehatan mendukung, tahu-tahu hari keberangkatan sudah di depan mata. Waktu itu aku sempat berpikir, “Oh, mungkin memang kalau sudah waktunya, semuanya dimudahkan.”
Namun ketika niat itu beralih kepada bapakku, ceritanya berbeda.
Justru karena yang ini terasa lebih penting secara batin, aku ingin menyiapkannya dengan lebih matang. Rasanya ingin memastikan semuanya sempurna, jadwal pas, kondisi prima, dana aman, dan tidak ada yang terlewat. Tapi entah kenapa, di situlah liku-liku mulai bermunculan.
Kadang terbentur soal waktu. Kadang muncul urusan lain yang tidak bisa ditunda. Pernah juga hampir jalan, tapi ada saja hal yang membuat rencana itu harus digeser. Seperti sedang berjalan di lorong panjang yang tiap beberapa langkah selalu ada pintu tertutup.
Awalnya jujur saja, aku sempat bertanya dalam hati, “Kenapa yang ini rasanya lebih sulit?”
Padahal niatnya sama. Bahkan mungkin lebih dalam.
Lama-lama aku mulai sadar, mungkin hidup memang tidak selalu mengikuti logika kita. Tidak semua yang direncanakan ketat akan otomatis berhasil, dan tidak semua yang mendadak berarti ceroboh. Ada wilayah yang tetap menjadi rahasia, orang sering menyebutnya sebagai waktu terbaik menurut Tuhan.
Bukankah ada ungkapan lama yang sederhana tapi menenangkan: manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan? Dulu kalimat itu terdengar klise. Sekarang rasanya lebih seperti pengingat agar kita tidak terlalu merasa memegang kendali penuh.
Kadang rencana yang terlalu detail tanpa sadar membuat kita ingin semuanya berjalan sesuai kemauan sendiri. Kita menggenggamnya erat-erat, sampai lupa memberi ruang pada kemungkinan lain. Sementara keputusan yang lebih spontan sering lahir dari keikhlasan, kita melangkah tanpa terlalu banyak tuntutan, lalu justru menemukan kemudahan di sana.
Bukan berarti merencanakan itu salah. Justru rencana tetap penting, seperti peta agar kita tidak tersesat. Tapi mungkin setelah peta dibuat, kita juga perlu belajar longgar, menerima bahwa jalan bisa saja berbelok.
Sekarang kalau kupikir-pikir, mungkin liku-liku rencana umroh untuk bapakku bukan semata hambatan. Bisa jadi itu cara hidup mengajarkan kesabaran. Atau cara halus agar aku belajar melepas sedikit rasa ingin mengatur segalanya.
Karena ada perjalanan yang bukan hanya soal sampai, tapi juga soal kesiapan hati.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!