Skip to main content

Memaafkan Diri Sendiri Sebelum Memaafkan Orang Lain



Orang sering bilang memaafkan itu melegakan. Dan anehnya, untuk urusan memaafkan orang lain, aku termasuk yang cukup ringan tangan. Ketika disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil, aku lebih memilih berkata dalam hati, “sudahlah.” Bukan karena aku tidak merasa sakit, tapi karena membenci terasa jauh lebih melelahkan. Menyimpan dendam seperti memanggul batu di punggung sendiri, berat, dan tidak ada untungnya.

Aku tidak suka punya musuh. Tidak nyaman membayangkan ada orang yang kuingat dengan rasa pahit. Rasanya sesak. Maka jalan tercepat yang kupilih adalah memaafkan. Lepas. Selesai. Setidaknya di permukaan.

Tapi belakangan aku sadar, ada satu orang yang paling sulit kumaafkan, diriku sendiri.

Lucunya, memaafkan diri sendiri terasa jauh lebih rumit. Untuk kesalahan orang lain, aku bisa mencari alasan: mungkin dia sedang lelah, mungkin dia tidak tahu, mungkin dia tidak sengaja. Tapi untuk diriku? Aku cenderung lebih keras. Lebih kritis. Lebih panjang daftar tuntutannya.

Ketika aku gagal mengambil keputusan yang tepat, aku mengulangnya berkali-kali di kepala. Ketika aku salah bicara, aku menyalahkan diri berhari-hari. Ketika aku merasa terlalu berharap atau terlalu lemah, aku mencibir diri sendiri tanpa ampun. Seolah-olah aku menuntut kesempurnaan dari manusia yang jelas-jelas tidak sempurna.

Padahal kepada orang lain saja aku bisa berkata, “tak apa, semua orang bisa salah.”

Mengapa kalimat itu sulit sekali kutujukan pada diriku sendiri?

Mungkin karena jauh di dalam hati, aku takut jika terlalu mudah memaafkan diri, aku jadi tidak belajar. Takut jika terlalu lunak pada diri sendiri, aku akan mengulang kesalahan yang sama. Maka tanpa sadar, aku menghukum diri dengan rasa bersalah yang berkepanjangan.

Padahal rasa bersalah yang tidak selesai justru berubah menjadi beban. Ia diam-diam menggerogoti kepercayaan diri, membuatku ragu melangkah, membuatku merasa tidak cukup. Dan ironisnya, beban itu tidak terlihat oleh siapa pun. Orang lain mungkin melihatku baik-baik saja, ramah, tenang, pemaaf. Tapi hanya aku yang tahu betapa seringnya aku berdamai dengan bayangan kesalahan sendiri.

Aku juga sering bertanya-tanya, apakah orang lain memikirkan aku sekeras aku memikirkan diriku? Apakah mereka menyimpan kecewa yang sama? Atau sebenarnya mereka sudah lama lupa, sementara aku masih sibuk mengadili diri sendiri? Hati orang, siapa yang benar-benar tahu?

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...