Aku tidak suka punya musuh. Tidak nyaman membayangkan ada orang yang kuingat dengan rasa pahit. Rasanya sesak. Maka jalan tercepat yang kupilih adalah memaafkan. Lepas. Selesai. Setidaknya di permukaan.
Tapi belakangan aku sadar, ada satu orang yang paling sulit kumaafkan, diriku sendiri.
Lucunya, memaafkan diri sendiri terasa jauh lebih rumit. Untuk kesalahan orang lain, aku bisa mencari alasan: mungkin dia sedang lelah, mungkin dia tidak tahu, mungkin dia tidak sengaja. Tapi untuk diriku? Aku cenderung lebih keras. Lebih kritis. Lebih panjang daftar tuntutannya.
Ketika aku gagal mengambil keputusan yang tepat, aku mengulangnya berkali-kali di kepala. Ketika aku salah bicara, aku menyalahkan diri berhari-hari. Ketika aku merasa terlalu berharap atau terlalu lemah, aku mencibir diri sendiri tanpa ampun. Seolah-olah aku menuntut kesempurnaan dari manusia yang jelas-jelas tidak sempurna.
Padahal kepada orang lain saja aku bisa berkata, “tak apa, semua orang bisa salah.”
Mengapa kalimat itu sulit sekali kutujukan pada diriku sendiri?
Mungkin karena jauh di dalam hati, aku takut jika terlalu mudah memaafkan diri, aku jadi tidak belajar. Takut jika terlalu lunak pada diri sendiri, aku akan mengulang kesalahan yang sama. Maka tanpa sadar, aku menghukum diri dengan rasa bersalah yang berkepanjangan.
Padahal rasa bersalah yang tidak selesai justru berubah menjadi beban. Ia diam-diam menggerogoti kepercayaan diri, membuatku ragu melangkah, membuatku merasa tidak cukup. Dan ironisnya, beban itu tidak terlihat oleh siapa pun. Orang lain mungkin melihatku baik-baik saja, ramah, tenang, pemaaf. Tapi hanya aku yang tahu betapa seringnya aku berdamai dengan bayangan kesalahan sendiri.
Aku juga sering bertanya-tanya, apakah orang lain memikirkan aku sekeras aku memikirkan diriku? Apakah mereka menyimpan kecewa yang sama? Atau sebenarnya mereka sudah lama lupa, sementara aku masih sibuk mengadili diri sendiri? Hati orang, siapa yang benar-benar tahu?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!