Aku tahu perasaan ini salah.
Bukan salah dalam arti dosa, bukan pula sesuatu yang melanggar aturan yang tertulis. Salah yang kumaksud lebih halus dari itu, salah karena mungkin, tanpa sadar, aku sedang mempermainkan perasaan orang lain. Atau setidaknya, mempermainkan kemungkinan.
Awalnya sederhana saja. Sebuah tatapan yang terlalu lama, percakapan singkat yang menyisakan gema, lalu perasaan hangat yang entah dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Ia tumbuh pelan, seperti kabut yang turun tanpa suara. Dan ketika kusadari, aku sudah menikmati sensasi itu, degup jantung yang sedikit lebih cepat, senyum yang muncul tanpa sebab jelas, langkah yang terasa lebih ringan ketika tahu mungkin hari itu kami akan bertemu.
Ada semacam efek kimia yang sulit dijelaskan. Endorfin, mungkin. Tubuhku seperti tahu kapan harus memproduksinya. Setiap kali melihatnya, atau bahkan hanya membayangkannya, ada rasa rileks yang menyebar perlahan. Dunia yang tadinya terasa berat mendadak lebih lunak. Masalah pekerjaan, penatnya rutinitas, segala tekanan yang biasanya menyesakkan dada, mendadak mengecil. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatku bernapas lebih lega.
Dan di situlah letak kesalahannya.
Karena aku sadar, aku menikmati perasaan ini untuk diriku sendiri. Aku memeliharanya seperti seseorang yang sengaja menyalakan lilin kecil di sudut gelap, hanya untuk merasakan hangatnya. Aku tahu mungkin di sisi lain ada hati yang benar-benar menunggu kejelasan. Ada harapan yang tumbuh, mungkin lebih serius, mungkin lebih tulus. Sementara aku? Aku masih berdiri di ambang pintu, tidak masuk sepenuhnya, tapi juga tidak benar-benar pergi.
Kebahagiaan yang kurasakan sebenarnya singkat. Ia tidak bertahan lama. Hanya beberapa menit setelah pertemuan, atau beberapa jam setelah percakapan ringan. Setelah itu, semuanya kembali biasa. Sunyi. Datar. Tapi anehnya, efeknya seperti sisa kafein di tubuh, ia memberiku semangat untuk menjalani sisa hari. Aku jadi lebih produktif, lebih sabar, bahkan lebih ramah pada orang lain. Seolah perasaan itu adalah bahan bakar kecil yang membuat mesinku tetap menyala.
Aku pernah mencoba menjauh. Mengurangi intensitas, mengalihkan perhatian, menyibukkan diri dengan hal lain. Tapi setiap kali jarak itu tercipta, justru ada kekosongan yang muncul. Hari terasa lebih panjang. Langkah terasa lebih berat. Dan di situlah aku sadar betapa candunya sensasi ini.
Apakah ini egois?
Mungkin. Karena selama aku menikmati efeknya, aku juga membiarkan ketidakjelasan itu tetap hidup. Aku tidak memberi kepastian, tapi juga tidak memutus kemungkinan. Aku seperti penonton sekaligus pemain dalam cerita yang setengah jadi. Aku tahu akhir yang adil seharusnya adalah kejelasan, entah melangkah maju dengan sungguh-sungguh atau mundur dengan tegas.
Namun untuk saat ini, aku masih berdiri di tengah. Menikmati getarannya, menyadari kesalahannya, tapi belum cukup berani untuk mengakhirinya.
Perasaan ini memang tidak sepenuhnya benar. Tapi ia nyata. Ia membuatku merasa hidup, walau hanya sebentar. Dan mungkin yang sedang kuhadapi bukan hanya soal cinta atau ketertarikan, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab atas rasa yang kupelihara sendiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!