Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati setiap kali mendengar seseorang berkata, “Pengen umroh lagi.” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik. Bukankah mereka sudah pernah ke sana? Sudah pernah melihat Ka’bah dari dekat, sudah pernah thawaf, sudah pernah berdiri dalam haru di antara jutaan doa. Lalu kenapa masih ingin kembali?
Awalnya kupikir mungkin itu sekadar keinginan biasa, seperti orang yang rindu kembali ke tempat liburan favorit. Tapi lama-lama aku sadar, rasanya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sehari-hari.
Beberapa waktu lalu aku duduk bersama seorang kenalan yang sudah dua kali umroh. Obrolannya santai saja, ditemani teh hangat dan sore yang pelan. Tanpa banyak pengantar, ia berkata, “Kalau sudah pernah ke sana, rasanya hati itu seperti tertinggal sedikit.”
Kalimat itu membuatku diam sejenak.
Tertinggal sedikit. Bukan hilang, tapi seperti ada bagian dari diri yang enggan pulang.
Ia lalu bercerita tentang momen pertama melihat Ka’bah. Katanya, foto dan video tidak pernah benar-benar bisa menggantikan pengalaman itu. Ada getaran aneh, campuran antara takjub, haru, dan rasa kecil di hadapan sesuatu yang begitu agung. Banyak orang yang datang membawa doa panjang, tapi justru mendadak lupa ingin berkata apa karena air mata lebih dulu jatuh.
“Aneh ya,” katanya sambil tersenyum, “di sana kita tidak merasa jadi siapa-siapa. Tapi justru itu yang bikin tenang.”
Sejak mendengar cerita itu, aku mulai mengerti bahwa kerinduan untuk kembali mungkin bukan tentang tempatnya semata, melainkan tentang perasaan yang lahir di sana. Dalam hidup yang sering bising, oleh pekerjaan, target, urusan dunia, dan segala keramaian pikiran, Tanah Suci seperti memberi ruang hening yang jarang ditemukan di tempat lain.
Bayangkan saja, jutaan orang datang dengan pakaian sederhana yang hampir serupa. Tidak terlihat siapa yang paling kaya, siapa yang paling berkuasa. Semua berdiri sejajar, sama-sama berharap didengar. Dalam suasana seperti itu, ego pelan-pelan luruh.
Mungkin itulah yang dirindukan.
Perasaan pulang.
Perasaan berserah.
Perasaan dekat.
Ada juga yang bilang, setelah umroh, hati terasa lebih ringan. Bukan berarti hidup langsung bebas masalah, tapi cara memandangnya berubah. Yang tadinya terasa berat menjadi lebih bisa diterima. Yang tadinya dikejar mati-matian mendadak terasa tidak terlalu penting.
Namun manusia memang mudah lupa. Waktu berjalan, rutinitas kembali padat, dan tanpa sadar hati ikut tertutup lagi oleh debu-debu dunia. Barangkali keinginan untuk umroh lagi adalah bentuk kerinduan untuk “dibersihkan” sekali lagi, seperti ingin mengisi ulang ketenangan yang mulai menipis.
Aku pernah mendengar ungkapan sederhana: tamu yang pernah datang ke rumah yang penuh cinta biasanya ingin berkunjung lagi. Mungkin umroh juga begitu. Ada rasa disambut, meski kita tahu sebenarnya kitalah yang membutuhkan.
Tentu tidak semua orang langsung ingin kembali. Ada yang merasa cukup sekali, ada pula yang masih menunggu panggilan. Karena pada akhirnya, banyak orang percaya bahwa perjalanan ke sana bukan semata soal mampu, tapi juga soal diundang.
Dan undangan itu, katanya, terasa di hati.
Sekarang setiap kali mendengar orang berkata ingin umroh lagi, aku tidak lagi heran. Justru ada rasa hangat membayangkan betapa kuat kenangan yang mereka bawa pulang. Sampai-sampai jarak ribuan kilometer pun tidak mampu menjauhkan rasa rindu itu.
Mungkin memang ada tempat-tempat di dunia ini yang ketika kita datangi, kita tidak benar-benar kembali sebagai orang yang sama.
Dan mungkin, kerinduan untuk umroh lagi bukan tanda bahwa perjalanan sebelumnya kurang. Justru sebaliknya, karena pernah merasakan kedekatan itu, hati jadi tahu ke mana ia ingin pulang.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!