Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Aku sampai harus menghitungnya di kepala, lalu menyerah dan membuka kalender. Rasanya baru kemarin tarawih pertama, suara imam masih terdengar sedikit bergetar karena saf belum serapat biasanya. Tiba-tiba saja hari-hari melompat. Waktu seperti berlari lebih cepat dari niat yang sempat kususun rapi di awal bulan.
Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang, grup keluarga ramai dengan jadwal buka bersama, dan timeline media sosial penuh dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi entah kenapa, di sela semua keramaian itu, ada satu rasa yang datang pelan-pelan, sepi yang tak diundang.
Bukan sepi karena sendirian. Rumah tetap berisi suara. Pekerjaan tetap berjalan. Undangan buka bersama bahkan lebih dari cukup. Namun ada ruang kecil di dalam diri yang terasa lengang. Seperti ada kursi kosong yang tidak terlihat, tapi jelas keberadaannya. Aku tidak tahu persis apa yang hilang. Mungkin kebersamaan yang dulu pernah ada. Mungkin versi diriku di Ramadan-Ramadan sebelumnya.
Aku teringat beberapa tahun lalu, ketika sahur masih penuh canda. Ketika adzan maghrib dinanti bersama, bukan hanya sebagai tanda berbuka, tapi sebagai alasan untuk berkumpul. Sekarang semuanya tetap ada, tapi rasanya berbeda. Lebih sunyi. Lebih tenang. Atau mungkin lebih dewasa.
Mungkin karena Ramadan memang bulan perenungan. Ketika lapar dan haus bukan sekadar menahan diri, tapi juga membuka ruang untuk mendengar isi hati sendiri. Dan saat itulah, hal-hal yang biasanya tertutup oleh kesibukan tiba-tiba muncul ke permukaan. Kerinduan yang belum selesai. Harapan yang belum tercapai. Atau mungkin kehilangan yang belum benar-benar sembuh.
Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Pertanyaan itu kini terasa bukan soal angka. Bukan tentang sudah berapa juz yang kubaca, atau sudah berapa kali aku berbuka di luar. Tapi tentang seberapa dalam aku mengenali diriku di bulan ini.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!