Skip to main content

Sahabat Pinjam Uang


Ada momen dalam pertemanan yang terasa lebih rumit daripada konflik atau salah paham, yaitu ketika sahabat meminjam uang.

Situasinya hampir selalu sama. Pesan masuk dengan nada hati-hati. Ceritanya biasanya tidak ringan. Ada kebutuhan mendesak, ada keadaan yang tidak bisa ditunda. Lalu tanpa sadar, hati langsung bergerak lebih dulu daripada logika.

Kasihan.

Refleks itu manusiawi. Apalagi kalau yang meminta adalah orang yang sudah lama hadir dalam hidup kita. Orang yang tahu cerita jatuh bangun kita, dan sebaliknya.

Tapi di saat yang sama, muncul suara kecil lain di kepala, “Bagaimana dengan kebutuhanku sendiri?”

Dan sejak detik itu, dilema dimulai.

Tidak banyak yang membicarakan betapa canggungnya berada di posisi ini. Menolak terasa kejam, menerima terasa berisiko.

Uang yang kita punya sering bukan uang berlebih. Ada rencana, ada tabungan darurat, ada rasa ingin berjaga-jaga untuk hal tak terduga. Memberikannya, meski hanya sebagian, kadang berarti menggeser rasa aman kita sendiri.

Namun bayangan bahwa seorang sahabat sedang kesulitan membuat keputusan terasa semakin berat.

Menjadi orang baik ternyata tidak selalu sederhana.

Kalau ini pertama kali terjadi, mungkin jawabannya lebih cepat. Tapi sering kali, sebelum keputusan dibuat, ingatan mulai membuka arsip lama.

Cerita teman lain yang pernah menunggu lama.
Janji yang katanya “sebentar lagi”.
Atau kebiasaan yang menunjukkan bahwa mengembalikan bukan prioritas.

Tidak harus buruk untuk disebut berisiko, cukup pernah terjadi saja sudah membuat hati lebih waspada.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar “mau membantu atau tidak”, tapi juga “siapkah menerima kemungkinan uang itu tidak kembali?”

Dan jujurnya, tidak semua orang siap.

Ada anggapan lama yang mengatakan bahwa sahabat harus selalu ada, apa pun situasinya. Tapi semakin dewasa, semakin terasa bahwa membantu juga butuh batas.

Batas bukan tanda kita pelit.
Bukan juga bukti kita tidak peduli.

Batas adalah cara menjaga hubungan tetap sehat.

Karena aneh rasanya ketika niat baik justru berubah menjadi ganjalan. Uang bisa dicari lagi, mungkin begitu kata sebagian orang. Tapi rasa canggung setelahnya? Itu yang sering mahal.

Tidak sedikit pertemanan merenggang bukan karena pertengkaran, tapi karena utang yang tak pernah jelas ujungnya.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...