Ada momen dalam pertemanan yang terasa lebih rumit daripada konflik atau salah paham, yaitu ketika sahabat meminjam uang.
Situasinya hampir selalu sama. Pesan masuk dengan nada hati-hati. Ceritanya biasanya tidak ringan. Ada kebutuhan mendesak, ada keadaan yang tidak bisa ditunda. Lalu tanpa sadar, hati langsung bergerak lebih dulu daripada logika.
Kasihan.
Refleks itu manusiawi. Apalagi kalau yang meminta adalah orang yang sudah lama hadir dalam hidup kita. Orang yang tahu cerita jatuh bangun kita, dan sebaliknya.
Tapi di saat yang sama, muncul suara kecil lain di kepala, “Bagaimana dengan kebutuhanku sendiri?”
Dan sejak detik itu, dilema dimulai.
Tidak banyak yang membicarakan betapa canggungnya berada di posisi ini. Menolak terasa kejam, menerima terasa berisiko.
Uang yang kita punya sering bukan uang berlebih. Ada rencana, ada tabungan darurat, ada rasa ingin berjaga-jaga untuk hal tak terduga. Memberikannya, meski hanya sebagian, kadang berarti menggeser rasa aman kita sendiri.
Namun bayangan bahwa seorang sahabat sedang kesulitan membuat keputusan terasa semakin berat.
Menjadi orang baik ternyata tidak selalu sederhana.
Kalau ini pertama kali terjadi, mungkin jawabannya lebih cepat. Tapi sering kali, sebelum keputusan dibuat, ingatan mulai membuka arsip lama.
Cerita teman lain yang pernah menunggu lama.
Janji yang katanya “sebentar lagi”.
Atau kebiasaan yang menunjukkan bahwa mengembalikan bukan prioritas.
Tidak harus buruk untuk disebut berisiko, cukup pernah terjadi saja sudah membuat hati lebih waspada.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar “mau membantu atau tidak”, tapi juga “siapkah menerima kemungkinan uang itu tidak kembali?”
Dan jujurnya, tidak semua orang siap.
Ada anggapan lama yang mengatakan bahwa sahabat harus selalu ada, apa pun situasinya. Tapi semakin dewasa, semakin terasa bahwa membantu juga butuh batas.
Batas bukan tanda kita pelit.
Bukan juga bukti kita tidak peduli.
Batas adalah cara menjaga hubungan tetap sehat.
Karena aneh rasanya ketika niat baik justru berubah menjadi ganjalan. Uang bisa dicari lagi, mungkin begitu kata sebagian orang. Tapi rasa canggung setelahnya? Itu yang sering mahal.
Tidak sedikit pertemanan merenggang bukan karena pertengkaran, tapi karena utang yang tak pernah jelas ujungnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!