Skip to main content

Sengketa Warisan


 Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang orang-orang yang saling berseteru karena warisan, aku selalu mengernyit dalam hati. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang ditinggalkan lebih penting untuk dikenang daripada diperebutkan? Rasanya sulit membayangkan bagaimana harta bisa mengalahkan hubungan darah, bagaimana tanah dan angka-angka bisa membuat suara meninggi dan pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Saat itu aku hanya menjadi penonton, menggeleng pelan, merasa jauh dari kemungkinan mengalami hal serupa.

Sampai akhirnya peristiwa itu benar-benar hadir di depan mata.

Bukan di keluargaku sendiri, melainkan di keluarga dari pihak istriku. Mertua lelakiku meninggal beberapa tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang masih hangat, suasana rumah yang muram, dan wajah-wajah yang belum sempat benar-benar menerima. Rasanya waktu berjalan lambat di hari-hari pertama itu. Kami masih sibuk dengan doa dan tamu yang datang silih berganti.

Belum genap tujuh hari.

Di tengah duka yang belum selesai, ada seorang tetangga yang datang dengan satu pertanyaan yang rasanya terlalu cepat untuk diajukan,  bagaimana dengan warisan?

Aku masih ingat suasana saat itu. Ada jeda sunyi yang terasa tidak nyaman. Tanah disebut-sebut. Ada bidang yang katanya harus jelas pembagiannya. Pembicaraan yang seharusnya bisa ditunda mendadak muncul di meja ruang tamu yang masih menyimpan aroma kehilangan.

Awalnya kukira itu hanya satu-dua percakapan yang akan selesai dengan sendirinya. Kukira semua orang akan sadar bahwa waktunya belum tepat. Namun ternyata aku keliru. Pembahasan tentang tanah itu terus berlanjut. Bukan hanya sekali. Bukan hanya sekadar tanya jawab ringan.

Lama-lama nada suara mulai berubah.

Yang tadinya diskusi, menjadi perdebatan. Yang tadinya sekadar klarifikasi, berubah menjadi saling mempertahankan posisi. Bahkan urusan umroh mertuaku pun ikut diseret ke dalam pusaran itu. Ditanyakan, dipertanyakan, dari mana uangnya, bagaimana sumbernya. Seolah-olah setiap langkah hidup almarhum harus dibedah ulang.

Aku yang semula merasa jauh dari cerita-cerita perebutan warisan itu, mendadak berdiri di tengahnya.

Liburan kemarin, keluarga besar dikumpulkan untuk memperjelas semuanya. Harapannya tentu baik, agar tidak ada prasangka, agar semua jelas di depan. Tapi suasana yang terbangun tidak sesederhana itu. Percakapan berjalan tegang. Ada nada tinggi. Ada kalimat yang meluncur lebih tajam dari niat awalnya.

Di satu titik, aku hanya duduk dan memperhatikan.

Wajah-wajah yang dulu tampak akrab kini menyimpan jarak. Kata “hak” terdengar lebih sering daripada kata “ikhlas”. Angka-angka disebut berulang kali, sementara kenangan tentang almarhum justru jarang disentuh. Saat itulah aku benar-benar memahami sesuatu yang dulu hanya kupandang dari luar.

Warisan bukan semata tentang harta.

Ia menyentuh harga diri, rasa keadilan, bahkan luka lama yang mungkin tak pernah selesai. Tanah yang tampak diam itu ternyata menyimpan banyak tafsir. Dan ketika tafsir berbeda-beda, gesekan pun tak terhindarkan.

Aku tidak lagi bertanya dengan nada heran, “Kenapa orang bisa begitu?” Kini aku mengerti, betapa tipis batas antara duka dan sengketa ketika harta ikut hadir di tengahnya. Bukan berarti semua orang serakah. Kadang yang dipertahankan bukan hanya materi, tapi juga rasa dianggap, rasa dihargai.

Namun tetap saja, ada bagian dalam diriku yang merasa sayang.

Sayang jika hubungan yang telah dibangun puluhan tahun harus retak karena sesuatu yang pada akhirnya tidak bisa dibawa pergi. Di tengah perdebatan itu, aku belajar satu hal yang pahit tapi nyata, warisan memang bisa menjadi ujian terbesar sebuah keluarga.

Dan sejak hari itu, setiap kali mendengar cerita tentang perebutan harta, aku tak lagi sekadar menggeleng. Aku mengangguk pelan, karena kini aku tahu, badai itu benar-benar ada, dan ketika datang, ia bisa mengguncang siapa saja.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...