Aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup di dalam “dunianya” masing-masing, dunia yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, luka, keberuntungan, juga hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain. Dari situlah perspektif lahir. Maka tidak heran jika satu persoalan bisa terlihat sederhana bagi seseorang, tapi terasa rumit bagi yang lain. Bukan karena ada yang lebih benar, melainkan karena kami berdiri di titik pandang yang berbeda.
Hari ini sebenarnya aku sengaja menyempatkan diri ikut kumpul-kumpul. Bukan acara besar, hanya pertemuan santai yang dipenuhi obrolan ringan, tawa sesekali, dan suara gelas yang saling bersentuhan. Aku datang bukan semata ingin bersosialisasi, tapi lebih karena rasa ingin tahu. Ada dorongan kecil dalam diriku untuk memahami bagaimana mereka berpikir, seperti apa pola yang mereka pakai saat melihat masalah, mengambil keputusan, atau menilai sesuatu.
Awalnya semuanya terasa biasa saja. Kami berbincang tentang banyak hal, pekerjaan, keluarga, rencana ke depan, sampai topik-topik yang sering memancing pendapat berbeda. Aku lebih banyak mendengar. Sesekali menimpali, tapi sengaja tidak terlalu mendominasi. Ada kalanya kita memang perlu mundur sedikit agar bisa melihat gambaran yang lebih utuh.
Dan justru dari situ aku mulai menangkap sesuatu.
Cara berpikirku ternyata berbeda. Bahkan mungkin “beda banget,” kalau boleh jujur.
Ada momen ketika mereka menyampaikan pendapat dengan begitu yakin, sementara dalam kepalaku muncul tanda tanya besar. Bukan berarti aku merasa paling benar, tidak sama sekali, tapi rasanya seperti mendengar bahasa yang sebenarnya sama, hanya kamusnya berbeda. Mereka melihat sesuatu dari sudut yang lebih praktis, misalnya, sementara aku cenderung mempertimbangkan sisi lain yang menurutku tidak kalah penting. Atau sebaliknya.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba aku seperti menemukan kepingan jawaban atas pertanyaan yang selama ini kadang muncul di hati, kenapa beberapa keputusanku sering dianggap keliru oleh mereka?
Mungkin bukan semata soal benar atau salah.
Mungkin karena kami berangkat dari cara memandang yang tidak sama.
Kesadaran itu datang tanpa rasa marah, tanpa juga kekecewaan yang berlebihan. Lebih seperti lampu kecil yang akhirnya menyala di ruangan gelap. Oh… ternyata ini toh sebabnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!