Skip to main content

Tarawih yang Tidak Selalu Khusyuk


Tarawih malam itu tidak sepenuhnya tenang. Sejak rakaat pertama, suara anak-anak sudah lebih dulu memenuhi sudut-sudut masjid. Ada yang berlari kecil di sela-sela saf, ada yang tertawa terlalu lepas, ada juga yang sibuk berbisik sambil menahan cekikikan. Di barisan belakang, seorang anak batuk berkali-kali, batuk yang jujur, yang tidak bisa ditahan, yang justru terdengar lebih nyata daripada lantunan ayat yang mengalun dari pengeras suara.

Aku berdiri di tengah saf, mencoba fokus. Takbir, rukuk, sujud. Tapi konsentrasiku pecah-pecah seperti kaca tipis. Setiap kali imam membaca dengan nada panjang dan khidmat, selalu saja ada suara kecil yang menyelip. Sandal yang diseret. Botol minum yang jatuh. Tangis yang tiba-tiba pecah lalu segera diredam ibunya.

Di sela rakaat keempat, suara imam berubah. Bukan saat membaca ayat, melainkan setelah salam pendek yang menjadi jeda. Dengan nada yang terdengar menahan kesal, beliau menegur anak-anak yang ramai. Kalimatnya tegas. Tajam. Meminta orang tua untuk menertibkan. Masjid, katanya, bukan tempat bermain.

Suasana mendadak berbeda. Anak-anak yang tadi riuh langsung diam, entah karena takut atau bingung. Beberapa orang tua menunduk, ada yang menarik tangan anaknya lebih keras dari biasanya. Aku melihat seorang bocah kecil menatap ke depan dengan mata besar, seperti tak sepenuhnya mengerti apa kesalahannya.

Aku paham kegelisahan imam. Semua orang ingin tarawih yang khusyuk. Ingin ayat-ayat itu turun perlahan ke hati tanpa gangguan. Aku pun ingin begitu. Tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Bukankah mereka baru belajar? Bukankah ini tahap pengenalan? Bukankah suara-suara kecil itu bagian dari proses mencintai rumah Tuhan?

Aku teringat masa kecilku sendiri. Datang ke masjid bukan semata karena paham makna ibadah, tapi karena suasananya. Karena bisa berlari setelah salam. Karena bisa membeli jajanan di halaman. Karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan hangat. Andai dulu setiap tawa dibalas amarah, mungkin langkahku tak akan sering-sering kembali.

Rakaat berikutnya berjalan lebih sunyi. Terlalu sunyi, malah. Tidak ada lagi suara berlari. Tidak ada batuk keras, hanya sesekali tertahan di tenggorokan. Masjid memang lebih tenang, tapi entah kenapa, terasa sedikit lebih dingin.

Aku mencoba kembali fokus. Mencoba menghadirkan hati yang sempat terusik. Tapi pikiranku justru sibuk bertanya, apakah khusyuk harus selalu identik dengan sepi? Apakah ibadah yang baik harus steril dari suara anak-anak?

Mungkin tarawih memang tidak selalu sempurna. Mungkin khusyuk bukan tentang tidak adanya gangguan, tapi tentang bagaimana kita menerima gangguan itu sebagai bagian dari kehidupan. Anak-anak yang ramai hari ini bisa jadi adalah orang-orang yang kelak memakmurkan masjid. Dan jika langkah pertama mereka diwarnai bentakan, entah apakah mereka akan tetap merasa diterima.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...