Skip to main content

Tentang Orang yang Merasa Paling Berjasa


 Ada satu pemandangan yang sering muncul setiap kali proses mencari pemimpin baru dimulai. Bukan cuma di politik besar, tapi juga di organisasi, komunitas, bahkan lingkungan kerja kecil. Tiba-tiba banyak orang berdiri di depan publik, menceritakan apa saja yang pernah ia lakukan. Daftar jasanya panjang. Nada bicaranya mantap. Seolah-olah tanpa dirinya, semua akan berantakan.

Padahal, kalau ditarik sedikit ke belakang, yang diceritakan itu sebenarnya hal-hal yang cukup biasa. Pekerjaan yang memang sudah jadi tanggung jawabnya. Peran yang juga dilakukan banyak orang lain, hanya saja tidak dipamerkan.

Situasi seperti ini terasa akrab, ya?

Di ruang-ruang pencarian calon pemimpin, ada kecenderungan aneh, yang paling keras bicara sering dianggap paling layak. Yang paling sering menyebut “saya” dianggap paling berpengalaman. Prestasi dijadikan panggung, bukan cermin.

Masalahnya bukan pada prestasi itu sendiri. Kerja baik memang layak diapresiasi. Tapi ada garis tipis antara berbagi pengalaman dan membanggakan diri. Ketika cerita tentang kontribusi berubah menjadi klaim sepihak, seolah hanya satu orang yang paling berjasa, di situlah ada yang terasa tidak beres.

Sering kali, orang-orang seperti ini lupa satu hal sederhana, hampir tidak ada capaian besar yang lahir dari kerja sendirian. Di balik satu nama, selalu ada tim, sistem, dan konteks yang ikut bekerja. Tapi dalam narasi yang dibangun, semua itu menghilang. Tinggal satu tokoh utama dengan sorotan penuh.

Yang lebih mengganggu, sikap seperti ini kerap muncul justru saat momentum kekuasaan terbuka. Ketika kursi pemimpin sedang kosong, tiba-tiba banyak “pahlawan kesiangan”. Prestasi lama dipoles ulang, diperbesar, lalu disodorkan sebagai tiket moral untuk memimpin.

Di titik ini, publik sering terjebak. Kita diajak kagum pada cerita, bukan pada dampak. Pada klaim, bukan pada proses. Padahal kepemimpinan bukan soal siapa yang paling sering mengingatkan jasanya, tapi siapa yang paling sanggup memikul tanggung jawab tanpa perlu tepuk tangan.

Menariknya, pemimpin yang benar-benar bekerja biasanya justru canggung bicara soal dirinya sendiri. Bukan karena tidak punya prestasi, tapi karena paham bahwa kerja nyata tidak butuh validasi berlebihan. Orang-orang di sekitarnya yang akan bicara dengan sendirinya.

Dalam konteks mencari calon pejabat atau pemimpin baru, mungkin kita perlu sedikit lebih pelan mendengar. Tidak langsung terpesona oleh narasi hebat. Bertanya lebih dalam,  apa yang berubah setelah dia bekerja? Siapa saja yang ikut terlibat? Dan yang tak kalah penting, bagaimana sikapnya saat tidak dipuji?

Karena kepemimpinan bukan lomba pidato tentang jasa masa lalu. Ia soal kerendahan hati, kemampuan mendengar, dan kesediaan mengakui bahwa keberhasilan selalu kolektif. Orang yang merasa paling berjasa sering lupa bahwa memimpin bukan tentang dikenang sebagai tokoh utama, tapi tentang meninggalkan sistem yang membuat banyak orang bisa tumbuh bersama.

Mungkin, di tengah hiruk-pikuk pencarian pemimpin, kita perlu lebih waspada pada satu sinyal sederhana, ketika seseorang terlalu sibuk membanggakan diri, bisa jadi ia belum siap memikul beban yang sebenarnya.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...