Semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya. Badan rasanya sudah minta kompromi sejak habis ngegym setelah magrib. Otot-otot pegal tapi enak, jenis capek yang bikin kasur terasa lima kali lebih empuk. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam tidur. Bahkan rasanya kepala baru saja menyentuh bantal, tahu-tahu sudah masuk ke dunia mimpi.
Di mimpi itu, aku sedang menonton drama China bertema kolosal kerajaan. Jenis drama yang penuh adegan perang, jubah panjang berkibar, musik megah, dan tentu saja, jurus-jurus yang tidak masuk akal tapi entah kenapa tetap seru ditonton. Para pendekar melayang-layang di atas pohon, berlari di udara, lalu bertarung dengan pedang berkilau. Dramatis sekali. Aku sampai terbawa suasana, seperti penonton setia yang tidak ingin ketinggalan satu adegan pun.
Dan di tengah semua kekacauan yang indah itu, muncul satu wajah yang langsung terasa familiar, Wang Yibo.
Nah loh.
Yang bikin lucu, aku sebenarnya tidak sedang mengikuti drama China apa pun akhir-akhir ini. Tidak maraton, tidak juga scrolling potongan adegan di media sosial. Bisa dibilang cukup jauh dari dunia per-dracin-an. Tapi entah kenapa, alam bawah sadar justru memilih dia sebagai cameo utama dalam mimpiku. Otak memang suka misterius, dia bekerja tanpa perlu izin.
Dalam mimpi itu, Wang Yibo terlihat seperti pendekar muda, tenang, dingin, tapi siap bertarung kapan saja. Gerakannya ringan, hampir seperti tidak menyentuh tanah. Aku bahkan sempat berpikir, “Wah, kalau begini ceritanya, sepertinya seru ini dramanya.”
Lalu tiba-tiba… ada yang terasa aneh.
Awalnya seperti ada yang menggoyang pelan. Tidak terlalu jelas, lebih mirip sensasi ketika kita setengah sadar, setengah masih terjebak mimpi. Aku sempat mengira itu bagian dari adegan perang. Mungkin efek ledakan? Atau jurus pamungkas yang membuat tanah bergetar?
Tapi goyangannya tidak berhenti.
Malah semakin terasa.
Kesadaran mulai naik perlahan, meski nyawa rasanya belum benar-benar terkumpul karena kantuk masih berat sekali. Mata belum mau terbuka penuh, tapi tubuh sudah memberi sinyal bahaya. Kasur bergerak. Dinding seperti ikut bergetar.
Dan di detik itulah aku benar-benar bangun.
“Ini gempa.”
Refleks, mulut langsung berkali-kali beristighfar.
Setengah panik, setengah masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Jantung mendadak berdegup cepat, kontras sekali dengan beberapa detik sebelumnya ketika aku masih duduk manis sebagai penonton drama kerajaan.
Gempanya terasa kuat. Bukan sekadar getaran lewat yang bisa diabaikan. Ada jeda yang terasa panjang, jenis guncangan yang membuat kita otomatis waspada. Dalam kepala cuma ada satu kesadaran sederhana: ternyata tanah yang kita pijak setiap hari pun bisa tiba-tiba terasa tidak stabil.
Namun di tengah rasa kaget itu, ada satu hal yang justru terasa… lucu.
Bayangkan saja, proses bangun karena gempa itu terjadi tepat saat aku sedang mimpi menonton adegan perang besar. Seolah-olah dunia nyata dan dunia mimpi bersekongkol membuat transisi yang dramatis. Dari pedang yang beterbangan di udara, langsung pindah ke kenyataan bahwa tempat tidurku benar-benar bergoyang.
Dan tetap saja, pertanyaan paling random muncul setelah semuanya agak tenang, kenapa harus Wang Yibo?
Otak ini memang suka membuat casting sendiri tanpa briefing.
Setelah getaran mereda, aku masih duduk beberapa saat di tepi kasur, menarik napas pelan. Kantuk perlahan hilang, digantikan rasa lega. Tidak ada suara benda jatuh, tidak ada kepanikan di luar. Malam kembali sunyi, tapi sunyi yang berbeda, lebih sadar, lebih hidup.
Kadang hidup memang seperti itu. Kita bisa tidur dalam cerita yang terasa megah, lalu dibangunkan oleh kenyataan dalam cara yang tidak kita duga. Dan semalam memberiku satu kesan sederhana, bahkan di tengah momen yang menegangkan, hidup masih sempat menyelipkan humor kecil.
Entah lewat mimpi absurd, atau kemunculan aktor terkenal yang tidak kita undang.
Yang jelas, setelah semalam, aku jadi makin percaya, batas antara mimpi dan realita itu tipis sekali. Dan sering kali, justru di perbatasan itulah kita menemukan cerita yang akan kita ingat lama.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!