Skip to main content

Aku Tidak Suka Lebaran


Sudah berkali-kali aku bilang, bahkan mungkin terlalu sering sampai terdengar seperti pengulangan yang melelahkan.... aku tidak suka lebaran. Bukan sekadar tidak antusias, tapi benar-benar tidak suka. Perasaan itu bukan datang tiba-tiba, bukan juga karena satu kejadian tertentu yang bisa dengan mudah ditunjuk sebagai penyebabnya. Ia tumbuh pelan-pelan, menumpuk dari tahun ke tahun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang sulit diurai.

Beberapa tahun terakhir, aku bahkan sudah berhenti pulang ke rumah bapakku saat hari raya. Awalnya mungkin terasa janggal, melihat orang lain sibuk bersiap mudik, membicarakan rencana berkumpul, sementara aku justru memilih diam di tempat. Tapi lama-lama, keputusan itu terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa bersalah yang dulu sempat muncul di awal-awal. Justru yang ada, semacam perasaan datar… atau mungkin lebih tepatnya, tidak merasa perlu.

Aneh memang, kalau dipikir-pikir. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya ingat, kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Apa sebenarnya yang jadi titik balik sampai aku memilih menjauh sejauh ini. Seolah-olah ada bagian dari ingatan yang mengabur, menyisakan rasa tanpa bentuk yang jelas. Tapi meski detailnya samar, perasaannya tetap ada, dan itu yang justru paling nyata.

Aku tahu, ini bukan soal karena sejak kecil tidak tinggal bersama. Bukan itu. Banyak orang punya cerita serupa dan tetap bisa menjaga hubungan dengan baik. Jadi pasti ada hal lain, sesuatu yang lebih dalam. Mungkin akumulasi dari kekecewaan-kekecewaan kecil yang tidak pernah benar-benar selesai. Hal-hal yang dulu mungkin kupendam, kuanggap sepele, atau kubiarkan lewat begitu saja… sampai akhirnya menumpuk tanpa sadar.

Dan ketika semua itu mencapai titik tertentu, rasanya seperti ada yang pecah di dalam diri. Bukan ledakan besar yang dramatis, tapi lebih seperti keputusan sunyi yang tiba-tiba terasa sangat jelas.... sudah cukup. Tidak perlu lagi memaksakan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar terasa utuh.

Di titik itu, hubungan “anak dan orang tua” yang sering dianggap sakral itu mendadak terasa seperti konsep yang jauh. Seolah-olah hanya label yang secara biologis benar, tapi secara emosional kosong. Aku mulai bertanya dalam hati, untuk apa terus menjaga sesuatu yang tidak pernah benar-benar memberi rasa hangat? Untuk apa datang, berjabat tangan, mengucapkan maaf, kalau semuanya terasa seperti formalitas yang hampa?

Kadang aku juga mencoba mengingat, apakah benar tidak ada kenangan manis sama sekali. Aku berusaha menggali, mencari satu saja momen yang bisa jadi alasan untuk kembali membuka pintu itu. Tapi yang muncul justru sebaliknya, potongan-potongan kecil yang tidak nyaman, yang mungkin dulu tidak terasa besar, tapi sekarang membentuk gambaran yang utuh.

Dan dari situlah semuanya jadi masuk akal. Bukan berarti aku membenci tanpa alasan, tapi mungkin aku sudah terlalu lama menahan sesuatu yang tidak pernah diberi ruang untuk diselesaikan. Jadi ketika akhirnya perasaan itu muncul ke permukaan, bentuknya jadi seperti ini, tegas, dingin, dan sulit untuk ditarik kembali.

Aku tahu, di luar sana mungkin banyak yang tidak akan mengerti. Akan ada yang bilang ini durhaka, ada juga yang menganggap ini berlebihan. Tapi perasaan tidak selalu bisa disesuaikan dengan ekspektasi orang lain. Ada luka yang tidak terlihat, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “maaf”.

Dan mungkin, untuk sekarang, inilah caraku bertahan. Dengan tidak memaksakan diri untuk baik-baik saja, dengan menerima bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan hanya karena statusnya. Mungkin suatu hari nanti semuanya bisa berubah, atau mungkin juga tidak. Tapi setidaknya, untuk saat ini, aku memilih jujur pada apa yang kurasakan, meski itu berarti berjalan menjauh dari sesuatu yang dulu disebut “rumah.”

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...