Kadang hati itu aneh..... semakin kita mencoba menjauh, justru semakin diam-diam mendekat. Bulan ini aku sadar, interaksi dengannya jauh berkurang. Bukan karena keadaan, tapi lebih karena aku sendiri yang memilih menghindar. Aku seperti sengaja menjaga jarak, menahan diri untuk tidak terlalu dekat, seolah-olah dengan begitu semuanya akan lebih aman. Padahal kalau jujur, di dalam hati justru kebalikannya, ada keinginan kecil yang terus muncul, ingin bertemu, ingin sekadar melihat, bahkan tanpa harus bicara.
Aku pikir dengan menghindar, perasaan ini akan pelan-pelan mereda. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Yang berubah hanya jaraknya, bukan rasanya. Justru karena jarak itu, pikiranku jadi lebih sering mencarinya. Hal-hal kecil yang dulu biasa saja jadi terasa berarti. Dan di titik itulah, mungkin aku mulai kehilangan kendali atas logika yang selama ini coba kujaga.
Sampai akhirnya kemarin, aku melakukan sesuatu yang bahkan sebelumnya selalu kubatalkan.
Aku meng-add akun Instagramnya.
Entah dorongan dari mana, tapi kali ini jari ini tidak berhenti di tengah jalan. Tidak ada lagi ragu yang biasanya datang di detik terakhir. Aku hanya klik, lalu selesai. Setelah itu? Campur aduk. Antara lega karena akhirnya berani, dan panik karena sadar apa yang baru saja kulakukan.
Lucunya, justru setelah itu aku berharap dia tidak menerimanya.
Dan benar saja, sampai sekarang belum ada respon. Entah memang belum dilihat, atau sengaja diabaikan, aku juga tidak tahu. Tapi di situ aku malah merasa sedikit… tenang. Aneh, ya? Seolah-olah aku ingin mendekat, tapi tidak benar-benar siap jika dia benar-benar membuka pintu itu.
Mungkin ini bukan tentang dia.
Mungkin ini tentang aku yang masih belum selesai dengan perasaanku sendiri.
Aku ingin dekat, tapi takut terlihat terlalu jelas.
Aku ingin dikenal, tapi tidak siap jika benar-benar dikenali.
Aku ingin ada kemungkinan, tapi juga takut jika kemungkinan itu jadi nyata.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!