Setiap awal Ramadan, aku selalu datang dengan daftar niat yang rapi. Tahun ini harus lebih baik. Tahun ini minimal satu kali khatam. Bahkan kalau bisa lebih. Semangat itu biasanya membuncah di malam pertama, mushaf terasa lebih ringan di tangan, huruf-huruf seperti menyambut dengan ramah, dan hati penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan lancar.
Tapi entah kenapa, memasuki hari-hari berikutnya, ritmenya mulai berubah. Kesibukan menyelip pelan-pelan. Rasa lelah datang tanpa permisi. Kadang setelah tarawih tubuh hanya ingin rebah. Kadang selepas sahur mata terasa terlalu berat untuk sekadar membuka satu halaman lagi. Dan tahu-tahu, hari sudah bertambah, sementara bacaanku belum banyak bergerak.
Menyedihkan sekali rasanya ketika aku sadar, bahkan Al-Baqarah pun belum selesai.
Setiap kali membuka mushaf dan melihat penanda terakhir berhenti di ayat yang itu-itu saja, ada rasa malu yang sulit dijelaskan. Target di kepala terasa begitu tinggi, tapi langkah di kaki begitu lambat. Aku mulai membandingkan diri dengan orang lain, yang sudah berbagi progres khatam, yang sudah masuk juz belasan. Sementara aku masih tertahan di awal perjalanan.
Padahal, kalau jujur, bukan karena tidak punya waktu sama sekali. Lebih sering karena kalah oleh rasa malas. Rasa yang datang dengan bisikan halus: nanti saja, masih panjang Ramadan. Besok saja, hari ini sudah capek. Dan besoknya, alasan baru muncul lagi. Begitu seterusnya.
Aku jadi bertanya pada diri sendiri, kenapa hal yang sebenarnya kucintai bisa terasa berat? Bukankah membaca Al-Qur’an seharusnya menenangkan? Kenapa justru terasa seperti beban target yang harus dikejar?
Mungkin aku terlalu fokus pada kata “khatam.” Pada angka. Pada pencapaian. Seolah-olah nilai Ramadan diukur dari berapa kali selesai, bukan dari seberapa dalam aku memahami. Aku mengejar garis akhir, tapi lupa menikmati setiap ayat yang seharusnya kuresapi perlahan.
Ada satu malam ketika aku memaksa diri duduk lebih lama. Kubuka kembali halaman yang tertunda. Kubaca tanpa tergesa. Tanpa menghitung berapa lembar lagi. Hanya satu halaman. Lalu satu halaman berikutnya. Tidak banyak, tapi terasa lebih ringan ketika aku berhenti membebani diri dengan target besar.
Mungkin rasa malas itu bukan semata kelemahan, tapi tanda bahwa aku perlu mengatur ulang niat. Bahwa ibadah bukan perlombaan. Bahwa lebih baik sedikit tapi konsisten, daripada banyak tapi penuh tekanan.
Aku masih ingin khatam. Tentu saja. Tapi sekarang aku mencoba berdamai dengan ritmeku sendiri. Jika hari ini hanya mampu satu atau dua halaman, tidak apa-apa. Yang penting aku tetap membuka. Tetap datang. Tetap berusaha.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!