Aku sering bertanya-tanya, kenapa begitu banyak orang menunggu lebaran dengan penuh suka cita, sementara aku justru sejak dulu tidak pernah benar-benar bisa menikmatinya. Bahkan sejak kecil, ketika orang-orang bilang hari itu adalah hari paling membahagiakan, aku sudah merasa ada yang tidak sejalan di dalam diriku. Waktu itu aku belum bisa menjelaskan apa yang salah, hanya tahu bahwa suasana yang bagi orang lain hangat, bagiku terasa asing.
Aku ingat bagaimana setiap tahun, menjelang hari itu, rumah mulai sibuk. Orang-orang bersiap, membicarakan rencana berkunjung, daftar rumah yang harus didatangi, dan siapa saja yang mungkin akan datang. Semuanya terdengar normal, bahkan menyenangkan, kalau dilihat dari luar. Tapi dari dalam, aku justru merasa pelan-pelan tertekan. Seolah-olah ada kewajiban tak tertulis yang harus dijalani, tanpa pernah benar-benar ditanya apakah aku nyaman melakukannya atau tidak.
Pagi hari lebaran selalu dimulai dengan cara yang sama.... pakaian rapi, suasana yang sedikit lebih formal dari biasanya, lalu momen salaman yang bagi banyak orang terasa hangat. Tapi bagiku, itu justru salah satu bagian yang paling tidak kusukai. Tangan-tangan yang saling bersentuhan, ucapan maaf yang diulang-ulang, semua terasa seperti ritual yang harus dijalani, bukan sesuatu yang benar-benar lahir dari perasaan. Aku melakukannya, tentu saja, karena saat itu aku belum punya pilihan lain. Tapi di dalam hati, selalu ada jarak yang tidak pernah bisa kujembatani.
Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah orang lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya, dari satu percakapan ke percakapan lain yang sering kali terasa sama. Pertanyaan-pertanyaan yang berulang, basa-basi yang harus dijawab, senyum yang harus dijaga. Aku sering merasa lelah, bukan karena fisiknya, tapi karena harus terus-menerus “hadir” dalam suasana yang tidak benar-benar kurasakan. Anehnya, bahkan ketika orang lain datang ke rumah, rasanya tidak jauh berbeda. Rumah yang biasanya tenang tiba-tiba dipenuhi suara, percakapan yang bersahutan, dan aku hanya ingin mencari sudut yang lebih sepi.
Semakin bertambah usia, aku kira perasaan itu akan berubah. Banyak orang bilang, semakin dewasa, kita akan lebih mengerti makna lebaran...... tentang silaturahmi, tentang memaafkan, tentang kembali merajut hubungan. Aku mencoba mempercayai itu. Aku mencoba membuka diri, mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tapi entah kenapa, yang kurasakan tetap sama. Bukan berarti aku tidak mengerti maknanya, hanya saja aku tidak bisa merasakannya seperti yang orang lain rasakan.
Aku tidak suka berkunjung ke rumah orang, bukan karena aku membenci mereka, tapi karena aku tidak nyaman dengan interaksi yang terasa dipaksakan. Aku juga tidak suka ketika rumahku didatangi banyak orang, karena suasana yang tiba-tiba berubah itu membuatku kehilangan ruang untuk bernapas dengan tenang. Dan soal membuka obrolan.... itu selalu jadi bagian yang paling sulit. Aku sering tidak tahu harus mulai dari mana, atau bagaimana menjaga percakapan tetap berjalan tanpa terasa kosong.
Kadang aku bertanya, apa ada yang salah denganku? Kenapa hal yang dianggap membahagiakan oleh banyak orang justru terasa melelahkan bagiku? Tapi semakin lama, aku mulai memahami bahwa mungkin ini bukan soal benar atau salah. Mungkin ini hanya soal cara setiap orang merasakan dunia yang berbeda.
Dan mungkin juga, sejak kecil aku sudah terbiasa merasakan lebaran bukan sebagai momen yang hangat, tapi sebagai rangkaian situasi yang harus dijalani. Jadi wajar kalau sampai sekarang, tubuh dan pikiranku masih meresponsnya dengan cara yang sama: menjaga jarak, mencari ruang sendiri, dan diam-diam menunggu semuanya berlalu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!