Aku baru saja menemukan satu kalimat yang rasanya menempel cukup lama di kepala...... jika kamu menuliskan masalahmu dengan jelas dan spesifik, kamu telah menyelesaikan setengah dari masalahmu. Sederhana, tapi terasa seperti menyentil sesuatu yang diam-diam sudah kulakukan belakangan ini. Tiba-tiba aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri..... jadi semua tulisan curhat yang selama ini keluar dari kepalaku… itu apa? Apakah ini bentuk keberanian menghadapi masalah, atau hanya cara halus untuk membenarkan perasaanku sendiri?
Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang tidak ingin mengganggu tapi juga tidak mau pergi. Karena jujur saja, beberapa waktu terakhir aku memang menulis banyak hal yang sebelumnya hanya berputar di kepala. Tentang lebaran yang tidak pernah kusukai, tentang hubungan yang terasa jauh, tentang perasaan yang sulit dijelaskan, tentang kejadian-kejadian yang membuatku merasa kecil dan tidak berdaya. Semuanya seperti keluar satu per satu, seolah-olah selama ini hanya menunggu pintu dibuka.
Awalnya, menulis terasa seperti sekadar tempat pelampiasan. Ruang aman yang tidak menghakimi, tidak menyela, tidak memberi tatapan aneh. Aku bisa jujur tanpa harus takut reaksinya. Tidak ada yang memotong kalimatku, tidak ada yang buru-buru memberi nasihat. Hanya aku dan kata-kata yang perlahan membentuk cerita. Tapi semakin sering aku menulis, semakin terasa ada sesuatu yang berubah. Pikiran yang tadinya berantakan mulai punya bentuk. Perasaan yang tadinya hanya berupa gumpalan berat di dada mulai bisa diberi nama.
Dan di situlah kalimat Kidlin’s Law itu terasa masuk akal. Karena setiap kali selesai menulis, masalahnya memang tidak hilang. Hidupku tidak tiba-tiba berubah. Orang-orang di sekitarku tetap sama. Situasi yang rumit tidak langsung selesai. Tapi anehnya, beban di kepala terasa sedikit berkurang. Seolah-olah sebelumnya aku membawa koper penuh tanpa tahu isinya, lalu perlahan mulai membongkar satu per satu dan menyadari...... oh, ini yang membuatnya berat.
Meski begitu, keraguan tetap muncul. Ada bagian dari diriku yang bertanya...... jangan-jangan aku hanya mencari pembenaran? Jangan-jangan aku hanya menulis agar perasaanku terlihat sah? Agar keputusan-keputusan yang kuambil terasa lebih masuk akal? Pikiran itu sempat membuatku tidak nyaman, seolah-olah menulis berubah menjadi sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan.
Tapi semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa menulis bukanlah pengadilan. Ia bukan tempat untuk membuktikan siapa benar dan siapa salah. Ia lebih seperti ruang interogasi yang lembut.... tempat aku bisa bertanya pada diri sendiri tanpa tekanan. Dan mungkin, justru di situlah letak setengah penyelesaian yang dimaksud.
Karena sering kali masalah terasa besar bukan hanya karena kejadiannya, tapi karena ia berputar tanpa bentuk di dalam kepala. Ia bercampur dengan asumsi, ketakutan, ingatan lama, dan kemungkinan yang belum tentu nyata. Ketika semuanya masih kabur, ia terasa seperti kabut tebal yang menutup pandangan. Tapi begitu ditulis, kabut itu mulai menipis. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk melihat jalan di depan.
Jadi mungkin, ini bukan soal pembenaran. Bukan juga soal justifikasi. Menulis tidak membuatku otomatis benar, dan tidak juga membuat orang lain otomatis salah. Ia hanya memberiku kesempatan untuk melihat diriku sendiri dengan lebih jujur. Untuk memahami kenapa sesuatu terasa menyakitkan, kenapa sesuatu terasa melelahkan, kenapa aku bereaksi seperti ini dan bukan seperti itu.
Dan mungkin, kalau memang menuliskan masalah berarti menyelesaikan setengahnya, maka setengah lainnya bukan soal mencari pembenaran..... melainkan tentang apa yang akan kulakukan setelah memahami semuanya. Tentang langkah kecil yang mungkin baru bisa diambil setelah kata-kata selesai dituliskan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!