Kadang yang membuat hati terasa berat bukan apa yang kita lakukan, tapi apa yang kita lihat dari orang lain. Di bulan seperti Ramadhan, ketika banyak orang tampak lebih rajin, lebih tenang, lebih “jadi”, tanpa sadar aku ikut melihat ke sana, lalu membandingkan.
Awalnya halus saja.
Melihat seseorang yang rutin datang lebih awal ke masjid. Melihat yang bisa membaca Al-Qur’an berjam-jam tanpa terlihat lelah. Mendengar cerita tentang ibadah malam yang konsisten. Semua itu sebenarnya baik, bahkan menginspirasi. Tapi entah kenapa, di dalam diriku, hal-hal itu justru berubah jadi cermin yang memantulkan kekurangan sendiri.
Aku mulai merasa kecil.
Seolah-olah apa yang kulakukan tidak cukup berarti.
Seolah-olah aku selalu satu langkah di belakang.
Padahal kalau dipikir lagi, aku tidak benar-benar tahu perjalanan mereka seperti apa. Aku hanya melihat bagian yang tampak. Aku tidak tahu perjuangan di baliknya, jatuh bangun yang mungkin mereka sembunyikan, atau fase-fase ketika mereka juga merasa jauh seperti yang kadang kurasakan.
Tapi tetap saja, perbandingan itu datang tanpa izin.
Dan anehnya, semakin aku membandingkan, semakin aku kehilangan arah. Fokusku bukan lagi pada apa yang bisa kulakukan, tapi pada apa yang tidak bisa kukejar. Aku jadi sibuk mengejar standar orang lain, sampai lupa bahwa setiap orang punya ritme yang berbeda.
Ada satu momen ketika aku sadar, mungkin aku terlalu keras pada diriku sendiri.
Aku menilai diriku dari hasil orang lain, bukan dari prosesku sendiri.
Aku lupa bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing. Ada yang sudah sampai di titik tertentu, ada yang masih di tengah perjalanan, ada juga yang baru mulai. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Mungkin yang salah adalah ketika aku mengukur diriku dengan ukuran yang bukan milikku.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!