Ramadhan selalu digambarkan sebagai bulan yang hangat, penuh ampunan, penuh ketenangan. Tapi di tengah semua itu, aku justru duduk dengan satu pertanyaan yang tidak selesai, kenapa aku merasa tidak benar-benar dekat?
Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul pelan-pelan, lalu menetap. Kadang saat selesai salat, kadang saat membaca ayat yang seharusnya menenangkan. Ada jeda di dalam hati, seperti ruang kosong yang tidak terisi. Aku tetap menjalani semuanya, puasa, tarawih, doa, tapi rasanya seperti ada yang tertinggal di dalam.
Aku jadi bertanya, mungkin bukan aku saja yang merasakan ini? Atau jangan-jangan… hanya aku?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup mengganggu. Karena kalau memang banyak orang yang merasakan hal yang sama, mungkin ini bagian dari proses. Tapi kalau hanya aku, rasanya seperti ada yang salah dalam diriku. Seolah-olah aku gagal merasakan apa yang seharusnya begitu mudah dirasakan di bulan seperti ini.
Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku. Mereka tampak baik-baik saja. Ada yang bercerita tentang khusyuknya tarawih, ada yang berbagi tentang ketenangan yang mereka rasakan. Aku mendengarkan, mengangguk, tapi di dalam hati aku diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak sepenuhnya bisa merasakan hal yang sama.
Dan di situlah rasa jauh itu semakin terasa.
Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar… mungkin aku tidak benar-benar sendiri.
Hanya saja, tidak semua orang menceritakannya.
Tidak semua orang menunjukkan sisi kosongnya.
Tidak semua orang mengungkapkan bahwa mereka juga pernah merasa datar di tengah bulan yang katanya penuh makna.
Mungkin banyak yang seperti aku, menjalani semuanya dengan diam, sambil berharap perasaan itu kembali. Hanya saja, masing-masing memilih untuk menyimpannya sendiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!