Skip to main content

Merasa Tertinggal Secara Spiritual


Ada perasaan aneh yang kadang muncul setiap kali aku berdiri di masjid, perasaan seperti sedang dilihat, diukur, dibandingkan, padahal mungkin tidak ada siapa-siapa yang benar-benar memperhatikan. Saf sudah mulai rapi, iqamah belum dikumandangkan, beberapa orang berdiri lebih dulu untuk salat sunnah qobliyah. Aku melihat mereka dengan tenang, gerakan mereka mantap, seolah sudah terbiasa. Sementara aku? Masih duduk. Menunggu. Berpura-pura sibuk dengan tasbih atau menunduk terlalu lama.

Bukan karena tidak tahu keutamaannya. Bukan juga karena tidak mau. Justru karena tahu, aku merasa semakin tertinggal. Ada dorongan dalam hati untuk ikut berdiri, mengambil dua rakaat sebelum fardhu, atau menambah ba’diyah setelahnya. Tapi setiap kali ingin melangkah, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Seperti ada sorot mata yang mengawasi, meski logikaku tahu itu hanya pikiranku saja.

Aku sering bertanya, kenapa bisa begitu? Kenapa ibadah yang seharusnya menjadi ruang pribadi antara aku dan Tuhan justru terasa seperti panggung kecil yang membuatku canggung? Padahal orang lain mungkin sibuk dengan urusannya masing-masing. Mungkin mereka bahkan tidak sadar aku duduk terlalu lama.

Ada satu malam ketika aku benar-benar mencoba melawan rasa itu. Aku berdiri pelan untuk qobliyah. Baru takbir pertama, pikiranku sudah ramai sendiri. Apakah gerakanku benar? Apakah terlalu lama? Apakah orang mengira aku sok rajin? Pikiran-pikiran itu mengganggu kekhusyukan yang bahkan belum sempat tumbuh. Akhirnya salat itu selesai dengan hati yang lebih lelah daripada sebelum memulai.

Sejak itu, aku kembali memilih duduk. Menunggu salat wajib saja. Setelah salam, orang-orang kembali berdiri untuk ba’diyah. Aku lagi-lagi menahan diri. Rasanya seperti ada jarak antara niat dan tindakan. Dan jarak itu membuatku merasa tertinggal secara spiritual.

Di rumah, aku merenung. Kenapa aku lebih nyaman melakukan sunnah sendirian daripada di masjid? Mengapa kehadiran orang lain membuatku ragu? Apakah ini tentang riya? Atau justru tentang takut dianggap riya? Kadang aku merasa terlalu sibuk memikirkan penilaian orang, sampai lupa bahwa yang paling penting adalah penilaian Tuhan.

Lucunya, mungkin tak ada satu pun yang benar-benar memperhatikan. Semua orang datang dengan niatnya sendiri, dengan kekurangannya sendiri. Bisa jadi mereka pun sedang bergumul dengan pikiran yang sama, merasa kurang, merasa tertinggal, merasa belum cukup.

Perasaan tertinggal ini tidak selalu tentang jumlah rakaat. Kadang ia tentang keberanian. Tentang keberanian melangkah tanpa terlalu peduli pada bayangan penilaian orang lain. Tentang keberanian jujur bahwa aku masih belajar, masih bertumbuh, masih sering goyah.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...