Skip to main content

Murphy’s Law


Murphy’s Law sering terdengar seperti kutukan kecil yang diam-diam mengintai pikiran.... semakin kamu takut sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat relevan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang kemarin terjadi padaku, rasanya seperti ketakutan yang dulu hanya berbisik pelan, tiba-tiba menjelma nyata di depan mata.

Aku jadi ingat, sebelum semua kekacauan itu benar-benar terjadi, sebenarnya sudah ada rasa cemas yang sering muncul tanpa diundang. Pikiran-pikiran kecil yang berputar sendiri di kepala. Bagaimana kalau mereka mulai menjauh? Bagaimana kalau ceritaku dipelintir? Bagaimana kalau suatu hari aku dibuat terlihat buruk di mata orang lain? Awalnya hanya bayangan, tapi lama-lama bayangan itu terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti ke mana pun aku pergi.

Dan ketika akhirnya benar-benar terjadi... ketika pembunuhan karakter itu terasa nyata, aku sempat terpaku pada satu hal....  jangan-jangan ini semua karena aku terlalu takut. Seolah-olah ketakutan itu sendiri yang memanggil kenyataan datang lebih cepat. Seolah-olah pikiranku yang terlalu sibuk membayangkan skenario buruk, justru tanpa sadar sedang membuka pintu untuknya.

Di titik itu aku mulai berpikir, mungkin memang ada yang perlu “ditanamkan ulang” dalam otak ini. Bukan untuk menyangkal realita, bukan juga untuk pura-pura positif tanpa alasan, tapi untuk menghentikan kebiasaan membiarkan pikiran liar berlarian tanpa kendali. Karena semakin lama dibiarkan, pikiran itu seperti memperbesar dirinya sendiri. Ketakutan kecil bisa tumbuh jadi monster besar hanya karena terus-menerus diberi makan oleh imajinasi.

Tapi di sisi lain, aku juga sadar, Murphy’s Law bukan hukum alam yang benar-benar mengatur hidup. Ia lebih seperti cermin dari cara kita memandang kemungkinan terburuk. Ketika kita terlalu fokus pada apa yang bisa salah, kita jadi lebih peka terhadap tanda-tanda yang mengarah ke sana. Kita membaca situasi dengan kacamata curiga. Kita menafsirkan gestur orang lain dengan nada negatif. Tanpa sadar, kita mungkin ikut bertindak defensif, kaku, atau penuh waspada, dan itu bisa memengaruhi bagaimana orang lain merespons kita.

Jadi mungkin bukan semata-mata “karena takut lalu terjadi”, tapi karena ketakutan itu mengubah cara kita berjalan, berbicara, dan memaknai sesuatu. Ia memengaruhi energi yang kita bawa.

Itulah kenapa rasanya penting untuk menanamkan satu hal baru dalam pikiran...  tidak semua yang ditakutkan harus dipercaya. Tidak semua kemungkinan buruk layak diberi ruang sebesar itu di kepala. Kita boleh waspada, tapi tidak perlu hidup dalam mode siaga sepanjang waktu. Kita boleh berhati-hati, tapi tidak harus membayangkan skenario terburuk setiap malam sebelum tidur.

Barangkali yang perlu dilatih bukan sekadar “jangan berpikir macam-macam”, tapi memberi jarak antara pikiran dan kenyataan. Mengakui bahwa ketakutan hanyalah kemungkinan, bukan kepastian. Dan kalau pun sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, itu bukan karena kita memikirkannya, melainkan karena hidup memang kadang berjalan tanpa meminta izin pada kesiapan kita.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...