Murphy’s Law sering terdengar seperti kutukan kecil yang diam-diam mengintai pikiran.... semakin kamu takut sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat relevan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang kemarin terjadi padaku, rasanya seperti ketakutan yang dulu hanya berbisik pelan, tiba-tiba menjelma nyata di depan mata.
Aku jadi ingat, sebelum semua kekacauan itu benar-benar terjadi, sebenarnya sudah ada rasa cemas yang sering muncul tanpa diundang. Pikiran-pikiran kecil yang berputar sendiri di kepala. Bagaimana kalau mereka mulai menjauh? Bagaimana kalau ceritaku dipelintir? Bagaimana kalau suatu hari aku dibuat terlihat buruk di mata orang lain? Awalnya hanya bayangan, tapi lama-lama bayangan itu terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti ke mana pun aku pergi.
Dan ketika akhirnya benar-benar terjadi... ketika pembunuhan karakter itu terasa nyata, aku sempat terpaku pada satu hal.... jangan-jangan ini semua karena aku terlalu takut. Seolah-olah ketakutan itu sendiri yang memanggil kenyataan datang lebih cepat. Seolah-olah pikiranku yang terlalu sibuk membayangkan skenario buruk, justru tanpa sadar sedang membuka pintu untuknya.
Di titik itu aku mulai berpikir, mungkin memang ada yang perlu “ditanamkan ulang” dalam otak ini. Bukan untuk menyangkal realita, bukan juga untuk pura-pura positif tanpa alasan, tapi untuk menghentikan kebiasaan membiarkan pikiran liar berlarian tanpa kendali. Karena semakin lama dibiarkan, pikiran itu seperti memperbesar dirinya sendiri. Ketakutan kecil bisa tumbuh jadi monster besar hanya karena terus-menerus diberi makan oleh imajinasi.
Tapi di sisi lain, aku juga sadar, Murphy’s Law bukan hukum alam yang benar-benar mengatur hidup. Ia lebih seperti cermin dari cara kita memandang kemungkinan terburuk. Ketika kita terlalu fokus pada apa yang bisa salah, kita jadi lebih peka terhadap tanda-tanda yang mengarah ke sana. Kita membaca situasi dengan kacamata curiga. Kita menafsirkan gestur orang lain dengan nada negatif. Tanpa sadar, kita mungkin ikut bertindak defensif, kaku, atau penuh waspada, dan itu bisa memengaruhi bagaimana orang lain merespons kita.
Jadi mungkin bukan semata-mata “karena takut lalu terjadi”, tapi karena ketakutan itu mengubah cara kita berjalan, berbicara, dan memaknai sesuatu. Ia memengaruhi energi yang kita bawa.
Itulah kenapa rasanya penting untuk menanamkan satu hal baru dalam pikiran... tidak semua yang ditakutkan harus dipercaya. Tidak semua kemungkinan buruk layak diberi ruang sebesar itu di kepala. Kita boleh waspada, tapi tidak perlu hidup dalam mode siaga sepanjang waktu. Kita boleh berhati-hati, tapi tidak harus membayangkan skenario terburuk setiap malam sebelum tidur.
Barangkali yang perlu dilatih bukan sekadar “jangan berpikir macam-macam”, tapi memberi jarak antara pikiran dan kenyataan. Mengakui bahwa ketakutan hanyalah kemungkinan, bukan kepastian. Dan kalau pun sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, itu bukan karena kita memikirkannya, melainkan karena hidup memang kadang berjalan tanpa meminta izin pada kesiapan kita.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!