Ramadhan tahun ini datang dengan rasa yang agak berbeda. Bukan karena suasananya berubah, bukan juga karena rutinitasnya terlalu jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Masjid tetap ramai menjelang tarawih, suara anak-anak tetap terdengar berlarian di halaman, dan pedagang takjil masih memenuhi sudut-sudut jalan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, di tengah semua yang terasa sama itu, ada satu perasaan yang diam-diam ikut hadir, kesadaran bahwa waktu terus berjalan, dan aku sendiri sudah semakin dekat dengan usia kepala lima.
Kadang kesadaran itu datang tiba-tiba, tanpa direncanakan.
Misalnya ketika melihat teman lama yang kini rambutnya mulai dipenuhi uban. Atau ketika bercermin pagi hari dan menemukan bahwa garis di wajah tidak lagi sehalus dulu. Hal-hal kecil seperti itu sebenarnya biasa saja. Semua orang mengalaminya. Tapi entah mengapa, di bulan Ramadhan, bulan yang sering membuat orang lebih banyak merenung, perubahan kecil itu terasa lebih jelas.
Aku sering duduk sebentar setelah tarawih, membiarkan suasana masjid perlahan sepi. Orang-orang pulang satu per satu. Lampu tetap menyala, tapi suara menjadi lebih jarang. Dalam suasana seperti itu, pikiran kadang berjalan sendiri ke arah yang tidak diduga.
Bagaimana mungkin waktu bisa berjalan secepat ini?
Rasanya belum terlalu lama sejak masa-masa ketika usia tiga puluhan masih terasa jauh dari kata tua. Saat itu hidup seperti terbuka lebar, banyak rencana, banyak kemungkinan, banyak hal yang terasa masih bisa dikejar. Tapi sekarang, tanpa terasa, jaraknya sudah tidak sejauh dulu lagi. Kepala lima bukan lagi sesuatu yang samar di kejauhan. Ia mulai tampak di depan, seperti sebuah tanda di jalan yang perlahan mendekat.
Anehnya, bukan angka itu sendiri yang menakutkan.
Yang terasa lebih mengganggu justru pertanyaan-pertanyaan yang ikut muncul bersamanya. Sudah sejauh mana hidup ini berjalan? Apa saja yang benar-benar berarti yang sudah dilakukan? Dan yang lebih penting lagi, berapa banyak waktu yang sebenarnya masih tersisa?
Ramadhan sering mengingatkan orang tentang kefanaan. Tentang bagaimana hidup pada akhirnya hanya perjalanan sementara. Tapi ketika pengingat itu datang bersamaan dengan kesadaran usia yang terus bertambah, rasanya menjadi lebih nyata. Tidak lagi sekadar konsep yang didengar di ceramah atau dibaca di buku.
Kadang muncul rasa khawatir yang sulit dijelaskan.
Bukan takut menjadi tua, tapi takut jika waktu ternyata berlalu lebih cepat daripada kesadaran kita untuk menggunakannya dengan baik. Takut jika terlalu banyak hari yang habis hanya untuk hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting. Takut jika suatu saat menoleh ke belakang dan menyadari bahwa banyak kesempatan sudah lewat begitu saja.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!