Beberapa hari terakhir Ramadhan terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Pagi datang, siang lewat, lalu tiba-tiba sudah sore. Di sela-sela itu, layar laptop hampir tidak pernah benar-benar mati. File terbuka, email masuk, pesan kerja berdatangan. Kadang aku baru sadar waktu sudah hampir maghrib ketika kepala mulai terasa berat dan mata terlalu lama menatap layar.
Ada satu hal yang sering terlintas di kepalaku, mungkin memang begini caraku bekerja.
Sejak dulu aku sering menjadi tipe orang yang baru benar-benar bergerak ketika deadline sudah dekat. Bukan karena sengaja menunda, tapi entah kenapa energi justru muncul ketika waktu mulai menipis. Saat orang lain sudah menyelesaikan tugas lebih awal, aku masih berkutat dengan kerangka, catatan kecil, dan pikiran yang belum sepenuhnya rapi. Lalu ketika tenggat semakin dekat, barulah semuanya terasa seperti tersusun sendiri. Fokus datang tiba-tiba, ide mengalir, dan pekerjaan selesai dalam waktu yang relatif singkat.
Di hari-hari biasa, pola seperti itu masih bisa diatasi. Tapi di bulan Ramadhan rasanya sedikit berbeda.
Tubuh sedang berpuasa, energi tidak selalu stabil, dan pikiran kadang terasa lebih mudah lelah. Namun kebiasaan bekerja mendekati deadline itu tidak hilang begitu saja. Pekerjaan yang seharusnya bisa dicicil sejak pagi sering kali baru benar-benar dikerjakan serius menjelang sore atau bahkan malam. Akibatnya, ketika waktu berbuka datang, kepalaku masih penuh dengan daftar tugas yang belum selesai.
Pernah suatu sore aku duduk menatap dokumen yang belum rampung. Waktu menunjukkan hampir pukul lima. Di luar, suasana mulai berubah pelan, orang-orang pulang kerja, pedagang takjil mulai ramai, dan aroma makanan dari dapur tetangga sesekali terbawa angin. Ramadhan sebenarnya sedang berjalan dengan ritmenya sendiri. Tapi aku masih terpaku di depan layar, mengejar pekerjaan yang terasa seperti bayangan panjang di belakangku.
Di momen seperti itu muncul pertanyaan kecil yang agak mengganggu, apakah tekanan ini benar-benar datang dari pekerjaan, atau justru dari kebiasaanku sendiri?
Mungkin memang sebagian pekerjaan menuntut banyak perhatian. Tapi mungkin juga aku yang sering menumpuknya tanpa sadar. Menunda sedikit, lalu sedikit lagi, sampai akhirnya semuanya berkumpul di ujung waktu. Dan ketika bulan Ramadhan datang, bulan yang seharusnya memberi ruang lebih untuk tenang, aku malah membawa pola yang sama ke dalamnya.
Ada rasa menyesal kadang-kadang. Rasanya ingin menjalani Ramadhan dengan lebih lapang. Pagi yang tidak terlalu terburu-buru, siang yang tidak terlalu penuh tekanan, sore yang bisa dinikmati tanpa pikiran terus mengejar deadline. Tapi realitanya tidak selalu seperti itu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!