Pernah ada masa ketika hidup terasa begitu datar, seperti garis lurus yang berjalan tanpa kejutan, tanpa warna, tanpa alasan untuk benar-benar berhenti dan merasa. Hari-hari berjalan rapi, terlalu rapi bahkan, sampai-sampai aku mulai curiga, apa memang begini rasanya hidup yang “baik-baik saja”?
Tidak ada drama, tidak ada luka besar, tapi juga tidak ada getaran yang membuat dada berdebar lebih cepat dari biasanya. Di titik itu, aku mulai bertanya pada diri sendiri....
apakah mungkin aku hanya perlu sedikit keberanian untuk membuat semuanya terasa hidup lagi?
Entah sejak kapan pikiran itu berubah menjadi keinginan yang lebih nyata. Mungkin dari hal sederhana, mengingat bagaimana dulu jatuh cinta bisa membuat dunia terasa berbeda. Warna-warna tampak lebih terang, suara-suara terdengar lebih hidup, dan hal-hal kecil tiba-tiba punya arti. Lalu muncul pertanyaan yang agak nekat.....
bagaimana kalau aku mencoba merasakannya lagi? Bukan dengan menunggu, tapi dengan sengaja mendekat pada kemungkinan itu.
Aku mulai datang ke tempat yang sebenarnya tidak asing, tapi kini terasa punya tujuan baru. Tempat yang sama, suasana yang sama, tapi dengan harapan yang berbeda. Di sana, ada seseorang yang entah bagaimana pernah membuatku tertawa, ringan, tanpa beban, tanpa perlu banyak alasan. Bukan sesuatu yang besar, mungkin hanya percakapan singkat atau momen kecil yang seharusnya mudah dilupakan. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa jujur.
Aku tidak pernah benar-benar merencanakan apa yang akan terjadi.
Aku hanya datang, duduk, memperhatikan sekitar, dan diam-diam berharap ia akan muncul lagi.
Ada perasaan aneh setiap kali melangkah ke tempat itu, campuran antara harap dan ragu. Seperti menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin pantas untuk ditunggu. Tapi tetap saja, aku datang lagi, dan lagi, seolah-olah ada bagian dari diriku yang ingin membuktikan bahwa hidup ini masih bisa memberi kejutan.
Sayangnya, tidak selalu ada yang bisa ditemukan di sana. Beberapa kali aku datang, tapi ia tidak ada. Kursi yang biasanya ia tempati kosong, suasana tetap berjalan seperti biasa, dan aku hanya jadi satu orang di antara banyak orang lain yang tidak saling mengenal. Awalnya aku mencoba berpikir itu hanya soal waktu yang tidak pas. Mungkin aku datang terlalu cepat, atau terlalu terlambat.
Mungkin besok akan berbeda.
Tapi setelah beberapa kali mencoba dan tetap tidak menemukan apa yang kucari, pelan-pelan aku mulai mengerti sesuatu. Bahwa tidak semua yang pernah membuat kita merasa hidup bisa dengan mudah dihadirkan kembali. Ada momen yang memang hanya singgah, memberi rasa, lalu pergi tanpa janji untuk kembali.
Dan sekeras apa pun kita mencoba mengejarnya, ia tetap tidak akan datang jika memang bukan untuk kita.
Di situlah aku mulai berhenti sejenak. Bukan karena menyerah, tapi karena lelah berharap pada sesuatu yang terlalu samar. Mungkin benar, tidak semua getaran harus diulang. Mungkin ada rasa yang hanya datang sekali, cukup untuk mengingatkan bahwa kita masih bisa merasa, lalu selesai sampai di situ.
Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak diizinkan untuk merasakan itu lagi...... setidaknya, bukan sekarang.
Bukan karena aku tidak layak,
tapi karena hidup punya caranya sendiri untuk mengatur kapan seseorang harus merasa penuh, dan kapan harus belajar menerima kehampaan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!