Sejak menikah, ada satu kebiasaan baru yang perlahan terbentuk dalam hidupku: mudik. Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar punya arti bagiku, kini hadir sebagai rutinitas yang hampir tak terhindarkan. Bukan karena tiba-tiba aku menyukai lebaran, bukan juga karena aku mendadak menikmati perjalanan pulang kampung seperti kebanyakan orang. Lebih karena ada satu hal yang berubah.... aku tidak lagi sendiri. Istriku berasal dari daerah yang berbeda, kabupaten yang berbeda, dan dari situlah kata “pulang” mulai punya arah yang baru, meski rasanya masih belum sepenuhnya akrab di hati.
Setiap menjelang lebaran, rencana mudik selalu muncul sebagai sesuatu yang harus dipikirkan. Tiket, jadwal, waktu berangkat, semuanya disusun rapi, seolah-olah ini bagian dari tradisi yang tidak bisa dilewatkan. Aku mengikutinya, tentu saja. Lebih tepatnya, aku mengikuti istriku. Bukan dalam arti terpaksa dengan keluhan yang keras, tapi lebih seperti menerima kenyataan bahwa ini adalah bagian dari kehidupan yang sekarang harus dijalani bersama. Meski di dalam hati, perasaan tentang lebaran itu sendiri tidak pernah benar-benar berubah.
Yang menarik, dari semua pilihan cara untuk mudik, aku punya satu prinsip yang tidak bisa ditawar, harus naik kereta. Entah sejak kapan, kereta jadi satu-satunya moda transportasi yang terasa masuk akal bagiku. Ada sesuatu yang menenangkan dari duduk di dalam gerbong, melihat pemandangan berganti perlahan di luar jendela, tanpa harus memikirkan kemacetan atau rasa mual yang tiba-tiba datang.
Karena pengalaman naik bus, jujur saja, bukan sesuatu yang ingin kuulang. Mabuk perjalanan yang datang tanpa ampun, ditambah rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan, membuatku memutuskan satu hal: aku tidak mau lagi naik bus, terutama untuk perjalanan jauh seperti mudik. Ada juga sedikit trauma yang tertinggal, yang mungkin tidak besar, tapi cukup untuk membuatku menolak pilihan itu mentah-mentah.
Orang mungkin akan berpikir, kalau begitu kenapa tidak naik mobil saja? Apalagi sekarang sudah punya kendaraan sendiri. Tapi bagiku, itu bukan solusi. Justru terasa seperti masalah baru. Membayangkan harus menyetir berjam-jam, terjebak macet di jalan, melihat deretan kendaraan yang tidak bergerak, rasanya sudah cukup melelahkan bahkan sebelum perjalanan dimulai. Buat apa memaksakan diri menempuh perjalanan panjang kalau akhirnya hanya dihabiskan dalam keadaan jenuh di tengah kemacetan?
Itulah kenapa kereta jadi satu-satunya pilihan yang terasa “aman”. Selama masih ada tiket, selama masih bisa duduk dengan tenang dan menikmati perjalanan tanpa tekanan berlebih, aku masih bisa menjalani mudik itu tanpa terlalu banyak keluhan di dalam hati.
Tapi pernah juga ada satu momen ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Tiket kereta habis. Tidak ada pilihan lain yang tersisa. Saat itu, untuk pertama kalinya aku benar-benar memilih untuk tidak mudik. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak mau mengganti kereta dengan pilihan lain yang justru membuatku tidak nyaman. Dan anehnya, di momen itu, aku justru merasa sedikit lega.
Seolah-olah, di tengah semua kewajiban yang datang bersama lebaran, aku masih punya satu kendali kecil atas diriku sendiri, hak untuk memilih bagaimana aku ingin menjalani perjalanan itu, atau bahkan memilih untuk tidak melakukannya sama sekali.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!