Kemarin sebenarnya hari yang penuh kemungkinan. Aneh rasanya menyadari itu justru setelah semuanya lewat. Ada begitu banyak celah kecil yang seharusnya bisa menjadi awal, momen singkat yang, kalau saja sedikit lebih berani, mungkin berubah menjadi percakapan sederhana. Tidak harus panjang, tidak perlu penting. Cukup satu sapaan ringan, satu kalimat yang membuka pintu kecil di antara dua orang yang selama ini hanya saling tahu tanpa benar-benar mengenal.
Aku ingat jelas bagaimana jarak kami tidak sejauh biasanya. Beberapa kali langkah kami searah, beberapa kali waktu terasa seperti memberi jeda yang sengaja dipanjangkan. Ada detik-detik yang terasa terlalu lambat, seperti dunia sedang menunggu sesuatu terjadi. Tapi justru di saat itulah aku memilih diam. Bukan karena tidak ingin, bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu ingin, terlalu peduli, sampai tubuhku sendiri seperti menolak bekerja sama.
Ada banyak kalimat yang sudah kususun rapi di kepala. Sapaan paling sederhana sekalipun terasa seperti sesuatu yang sudah kusiapkan berkali-kali. Aku tahu persis bagaimana aku ingin mengucapkannya, bahkan mungkin sudah membayangkan bagaimana ia akan menjawab. Tapi ketika momen itu benar-benar datang, semuanya runtuh begitu saja. Kata-kata yang tadi terasa begitu dekat, mendadak menjauh seperti kabut yang ditiup angin. Yang tersisa hanya aku, berdiri dalam keheningan yang terlalu canggung untuk dipecahkan.
Aku sempat berpikir masih ada waktu. Selalu ada nanti, selalu ada kesempatan lain. Kalimat itu terasa menenangkan saat itu, sebuah alasan yang terdengar logis untuk menunda keberanian. Aku membiarkan kesempatan-kesempatan kecil itu lewat satu per satu, seperti daun yang jatuh tanpa sempat kugenggam. Dan entah kenapa, saat itu aku benar-benar percaya masih akan ada hari berikutnya untuk memperbaiki semuanya.
Hari ini datang, tapi tidak seperti yang kubayangkan.
Hari ini hanya memberi satu momen yang terlalu singkat. Aku melihatnya sekilas, seperti adegan yang diputar cepat sebelum sempat kupahami. Ia sudah harus pulang. Tidak ada jeda panjang, tidak ada ruang yang bisa kupinjam sebentar untuk sekadar berkata halo. Kehadirannya hari ini terasa seperti bayangan, nyata, tapi terlalu cepat menghilang.
Dan di situlah penyesalan itu datang tanpa aba-aba. Mendadak semua kesempatan kemarin kembali satu per satu, seperti potongan adegan yang diputar ulang di kepala. Semua momen yang dulu terasa biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang berharga. Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa kemarin aku begitu pelit pada kesempatan? Mengapa aku tidak memberi ruang kecil itu untuk terjadi?
Rasanya aneh menyesali sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya sapaan. Hanya satu langkah kecil. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya terasa berat. Karena semakin sederhana sesuatu, semakin sulit mencari alasan mengapa kita tidak melakukannya.
Sekarang yang tersisa hanya bayangan kemungkinan. Pikiran tentang bagaimana hari ini mungkin akan berbeda jika kemarin aku sedikit lebih berani. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus berulang tanpa jawaban.
Dan mungkin yang paling mengganggu adalah kesadaran bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali dengan bentuk yang sama. Kadang ia datang sekali, diam-diam, tanpa pengumuman. Lalu pergi begitu saja, meninggalkan kita dengan kalimat yang tak pernah sempat diucapkan.
Hari ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada orang, tapi karena ada sesuatu yang seharusnya bisa terjadi, dan aku tahu persis bahwa akulah yang membiarkannya tidak pernah dimulai.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!