Beberapa hari ini aku punya kebiasaan baru yang terasa memalukan untuk diakui, datang ke tempat yang sama dengan harapan yang sama, lalu pulang membawa kekosongan yang sama. Tidak ada janji, tidak ada rencana, bahkan tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan kenapa aku harus datang. Tapi tetap saja aku datang. Seolah ada bagian kecil dalam diriku yang bersikeras percaya bahwa kebetulan bisa diatur oleh keinginan.
Tempat itu sebenarnya biasa saja. Tidak istimewa. Orang-orang datang dan pergi tanpa menyadari bahwa bagi seseorang di sudut ruangan, tempat itu adalah kemungkinan. Setiap kali melangkah masuk, mataku selalu bergerak lebih cepat dari langkah kaki. Menyapu ruangan diam-diam, berpura-pura tidak mencari apa pun padahal sebenarnya hanya mencari satu orang.
Dan setiap kali tidak menemukannya, ada jeda kecil yang terasa seperti napas tertahan terlalu lama.
Awalnya aku menenangkan diri dengan kalimat sederhana..... mungkin hari ini dia tidak datang. Lalu besok aku kembali lagi dengan alasan yang sama. Lusa, alasan itu mulai terdengar lebih lemah. Hari berikutnya, aku mulai merasa seperti orang yang mengulang adegan yang sama dalam film yang tidak pernah berubah.
Aku tahu betul di mana dia biasanya berdiri. Ada titik tertentu yang selalu kulirik lebih lama dari tempat lain, seolah ruang kosong itu menyimpan bayangannya. Anehnya, ruang kosong bisa terasa begitu penuh. Penuh kemungkinan, penuh ingatan singkat, penuh percakapan pendek yang bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.
Sampai akhirnya datang satu hari ketika aku berhenti di depan pintu dan bertanya pada diri sendiri: untuk apa?
Hari itu aku masuk lebih pelan dari biasanya. Tidak buru-buru menoleh. Tidak buru-buru berharap. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa kali ini aku datang hanya untuk datang. Bukan untuk mencari. Bukan untuk menunggu. Bukan untuk berharap.
Tentu saja itu bohong.
Mataku tetap mencari, hanya saja lebih hati-hati. Lebih malu-malu. Seolah tidak ingin ketahuan oleh diriku sendiri.
Dan ketika akhirnya aku menyadari dia benar-benar tidak ada, lagi, ada rasa lelah yang tiba-tiba jatuh begitu saja. Bukan sedih yang dramatis, bukan kecewa yang meledak. Hanya lelah yang tenang, seperti hujan tipis yang turun tanpa suara.
Di perjalanan pulang, aku mencoba membuat keputusan yang terdengar dewasa, sudah cukup. Tidak perlu datang lagi dengan alasan yang sama. Tidak perlu mencari sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Mungkin memang lebih baik begini. Lebih baik untukku. Lebih baik untuk cerita yang bahkan belum sempat dimulai.
Keputusan itu terdengar masuk akal. Rapi. Logis. Hampir meyakinkan.
Tapi rupanya hati tidak pernah benar-benar mengikuti keputusan yang dibuat oleh logika.
Beberapa kali, tanpa sadar, kepalaku masih menoleh ke arah tempat itu ketika melewati jalan yang sama. Kadang aku membayangkan bagaimana kalau suatu hari dia kembali muncul tepat setelah aku berhenti datang. Bagaimana kalau kebetulan itu akhirnya terjadi justru ketika aku menyerah.
Pikiran itu muncul tiba-tiba, seperti bisikan yang tidak diundang.
Aku tahu seharusnya aku berhenti. Aku tahu tidak ada yang harus dicari. Tidak ada yang harus ditunggu. Tidak ada yang hilang karena memang tidak pernah ada.
Tapi anehnya, perasaan itu masih tinggal di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keputusan apa pun.
Dan mungkin, yang paling sulit diterima bukanlah kenyataan bahwa dia tidak ada, melainkan kenyataan bahwa sebagian diriku masih berharap suatu hari akan menemukannya, tanpa sengaja, tanpa rencana, tanpa alasan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!