Skip to main content

Bukankah Kita Hanya Dua Orang yang Terus Berpura-pura Biasa?


Mungkin memang aku yang terlalu agresif. Atau mungkin tidak juga. Sampai sekarang aku masih belum bisa memutuskan apakah tindakanku itu berani, nekat, atau justru terlalu polos untuk disebut agresif. Yang jelas, semuanya bermula dari rasa penasaran yang tidak lagi bisa kutahan.

Suatu malam, dengan niat yang setengah sadar dan setengah lagi digerakkan oleh rindu yang tak tahu diri, aku mulai mengetik namanya di kolom pencarian. Satu akun muncul. Lalu akun lain. Lalu yang lain lagi. Seperti membuka pintu kecil yang ternyata terhubung ke lorong panjang. Aku menemukannya. Semua. Jejak-jejak digital yang selama ini tersembunyi di balik sikap diamnya.

Aku tidak tahu kenapa jantungku berdebar seperti sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Padahal hanya melihat-lihat. Hanya membaca. Hanya menggulir layar.

Lalu aku mulai menemukan kalimat-kalimat itu.

Status lama. Riwayat tulisan bertahun lalu. Beberapa potongan kalimat yang nadanya terasa… akrab. Terlalu akrab. Cara dia merangkai kata, memilih metafora, bahkan keluh kesah kecil yang ia bungkus dengan nada bercanda...... semuanya terasa seperti sedang membaca ulang tulisanku sendiri dalam versi lain. Aku sampai tertawa kecil sendirian. Bukan karena lucu. Lebih karena tidak percaya.

Ah, jangan-jangan aku memang sudah gila.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang berpikir dengan ritme seirama tanpa pernah benar-benar berbicara panjang? Atau mungkin aku saja yang terlalu ingin menemukan kesamaan, sampai hal-hal biasa pun terasa seperti pertanda.

Semakin aku membaca, semakin perasaanku menjadi campuran yang sulit dijelaskan. Ada senang. Ada heran. Ada perasaan seperti menemukan cermin di tempat yang tak pernah kuduga. Dan di tengah kekacauan kecil itu, entah dorongan apa yang membuatku akhirnya menekan tombol “ikuti”.

Sengaja.

Tidak ada mode sembunyi-sembunyi. Tidak ada akun anonim. Aku ingin ia tahu bahwa aku menemukannya. Bahwa aku cukup peduli untuk mencari.

Dan sebagai penanda kecil, atau mungkin pengakuan yang terlalu terang-terangan, aku meninggalkan satu tanda cinta di salah satu postingannya. Hanya satu. Tidak banyak. Tidak berlebihan. Tapi cukup jelas untuk dibaca sebagai pesan: aku di sini.

Setelah itu, aku menutup aplikasi dengan napas yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Seperti baru saja melempar batu kecil ke permukaan danau, lalu menunggu riaknya menyebar.

Hari berikutnya terasa berbeda.

Kebisuan yang sempat membeku di antara kami beberapa hari sebelumnya mulai mencair. Bukan mencair sepenuhnya, tentu saja. Kami masih sama-sama canggung. Masih sama-sama menjaga jarak dalam batas aman. Tapi ada perubahan kecil yang tak bisa kuabaikan.

Ia beberapa kali mencoba menarik perhatianku. Tidak terang-terangan, tapi cukup jelas bagi seseorang yang sudah terlalu lama memperhatikan detail kecil. Ia berdiri sedikit lebih dekat. Ia tertawa sedikit lebih keras ketika berada dalam radius yang sama. Bahkan sesekali aku merasa sorot matanya seperti menunggu sesuatu dariku, sebuah reaksi, mungkin.

Dan di situlah aku kembali menjadi diriku yang membingungkan.

Alih-alih menyambutnya dengan antusias yang setara, aku justru merespons dengan datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Seperti orang yang berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri agar tidak terdengar terlalu jelas. Padahal di dalam, ada kekacauan kecil yang kembali hidup.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ia mengerti maksud tanda kecil itu? Apakah ia membaca kesamaan dalam kalimat-kalimat kami seperti yang kubaca? Atau baginya itu hanya kebetulan biasa yang tidak perlu diperbesar?

Aku juga tidak yakin apakah tindakanku kemarin dianggap terlalu maju. Terlalu terang. Terlalu terbuka. Mungkin ia terkejut. Mungkin ia senang. Mungkin ia hanya merasa aneh.

Dan aku? Aku justru terjebak di antara dua kutub...... ingin terlihat biasa saja, tapi berharap ia memahami luar biasanya perasaanku.

Kadang aku merasa seperti sedang memainkan permainan yang aturannya tidak pernah dijelaskan. Satu langkah maju terasa seperti keberanian besar. Satu respons datar terasa seperti langkah mundur yang tidak disengaja. Kami seperti dua orang yang sama-sama tahu ada sesuatu, tapi terlalu hati-hati untuk menyebutnya dengan nama yang jelas.

Apakah ini yang disebut saling memberi sinyal? Atau hanya dua orang yang kebetulan berjalan di jalur yang sama, lalu terlalu banyak berpikir tentang setiap gerakan?

Yang pasti, sejak malam aku menemukan akun-akunnya itu, semuanya terasa sedikit lebih nyata. Ia bukan lagi sekadar sosok yang berdiri beberapa meter dariku. Ia punya dunia. Punya kalimat-kalimat yang mirip denganku. Punya sisi yang diam-diam membuatku merasa tidak sendirian dalam cara memandang hidup.

Dan mungkin, di antara semua kebingungan ini, yang paling membuatku takut adalah satu hal sederhana: bagaimana jika ia juga merasa hal yang sama, tapi sama-sama memilih bersikap datar agar tidak terlihat terlalu ingin?

Kalau begitu, bukankah kita hanya dua orang yang terus berpura-pura biasa, padahal sama-sama tidak biasa?

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...