Kadang aku duduk cukup lama hanya untuk menatap halaman statistik blogku sendiri. Angka-angka itu bergerak naik turun seperti detak yang punya ritme sendiri. Ada hari ketika pengunjungnya tembus ribuan dalam satu hari, angka yang membuatku terdiam, antara kaget dan sedikit tidak percaya. Tapi ada juga hari-hari yang jauh lebih sepi, hanya ratusan saja, seperti rumah yang tetap berdiri tapi tanpa banyak tamu yang singgah.
Aneh rasanya memikirkan itu semua. Aku sering bertanya dalam hati, sebenarnya mereka datang dari mana? Siapa yang mengetikkan kata kunci tertentu hingga akhirnya terdampar di tulisanku? Apakah mereka membaca sampai selesai, atau hanya singgah beberapa detik lalu pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu butuh jawaban, tapi tetap saja muncul, terutama ketika melihat grafik yang naik tajam tanpa aba-aba.
Yang lebih membuatku heran, justru tulisan-tulisan lama, bahkan yang kutulis sebelum tahun 2000-an, yang sering paling banyak dibaca. Tulisan yang lahir di masa ketika aku sendiri masih sangat berbeda dari sekarang. Gaya bahasanya lebih polos, lebih mentah, mungkin juga lebih jujur tanpa banyak pertimbangan. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, justru tulisan itu yang terus menemukan pembacanya.
Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Seolah-olah masa lalu masih punya napasnya sendiri.
Tapi bersamaan dengan itu, ada juga satu hal yang sering membuatku tersenyum kecil, komentar atau pesan yang mempertanyakan kenapa tulisanku terasa ambigu. Kenapa ceritanya seperti nyata, tapi juga tidak sepenuhnya jelas. Kenapa seolah-olah aku sedang menceritakan sesuatu yang sangat personal, tapi di saat yang sama terasa seperti kabut.
Jawabannya sebenarnya sederhana, dan memang disengaja.
Sebagian kecil dari tulisanku memang lahir dari kejadian nyata. Potongan pengalaman, serpihan emosi, rasa yang pernah benar-benar kurasakan. Tapi lebih sering lagi, itu adalah fiksi. Imajinasi yang kubiarkan berjalan bebas, mengambil bentuk dari perasaan-perasaan yang mungkin pernah mampir, lalu kususun menjadi cerita.
Kadang aku menulis tentang jatuh cinta. Tentang rindu yang diam-diam. Tentang pertemuan yang tak pernah terjadi. Dan ada saja yang langsung mengira itu adalah pengakuan terselubung. Seolah-olah setiap kalimat adalah cermin dari kehidupan pribadiku saat ini.
Padahal tidak begitu.
Aku tidak sedang selingkuh. Tidak sedang menjalani kisah rahasia yang dramatis seperti dalam cerita. Aku hanya menuliskan kemungkinan-kemungkinan. Imajinasi tentang bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta, bagaimana jika berada dalam situasi tertentu, bagaimana jika hati memilih jalan yang berbeda.
Tak jarang juga aku meromantisasi lagu. Lirik yang sebenarnya netral bisa berubah menjadi seolah-olah sangat personal ketika kutautkan dengan sebuah cerita. Lagu itu jadi seperti latar adegan dalam film kecil yang kubuat sendiri. Pembaca mungkin mengira itu kisah hidupku, padahal ia hanya narasi yang kubangun dari bunyi dan rasa.
Jadi kalau suatu hari tulisanku terasa terlalu nyata, terlalu dekat, atau terlalu seperti pengakuan, anggap saja itu bagian dari permainan imajinasi. Aku hanya sedang bercerita. Tidak lebih. Tidak kurang.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!