Dan entah kenapa, setiap kali itu terjadi, aku merasa seperti penyebabnya.
Perasaan itu muncul pelan-pelan, tidak tiba-tiba. Awalnya hanya sekilas pikiran yang lewat, lalu pergi. Tapi semakin sering kami bertemu, semakin sering pula pikiran itu kembali, seperti tamu yang tidak diundang tapi terus menemukan jalan pulang. Jangan-jangan dia jadi diam karena aku ada. Jangan-jangan kehadiranku membuat ruang di sekitarnya menyempit, membuatnya kehilangan keluwesan yang biasanya ia miliki.
Aku sering melihatnya dari jauh ketika aku belum berada di dekatnya. Dia tampak lepas, tertawa lebih keras, bicara lebih banyak, bergerak lebih ringan. Ada semacam cahaya yang menyertainya. Tapi ketika jarak itu menyusut, ketika kebetulan mempertemukan kami dalam radius yang sama, sesuatu seperti meredup. Dia tetap di sana, tetap bersama orang-orangnya, tapi ada jeda-jeda kecil yang tak bisa kujelaskan.
Dan di sela jeda itu, aku berdiri dengan rasa bersalah yang tidak pernah kuundang.
Lucunya, aku pun tidak jauh berbeda. Jika dia tidak ada di dekatku, aku bisa menjadi diriku yang biasa. Bergerak tanpa berpikir terlalu banyak, tertawa tanpa merasa diawasi, berbicara tanpa menimbang setiap kata. Tapi begitu dia muncul di dekatku, semuanya berubah. Gerakanku jadi lebih kaku, langkahku terasa canggung, bahkan napasku seperti harus diatur ulang agar tidak terdengar terlalu cepat.
Seolah-olah keberadaan kami di ruang yang sama menciptakan medan gravitasi baru yang tidak kami pahami.
Aku jadi kikuk. Dia jadi diam. Kami berdiri di dua sisi kecanggungan yang sama, tanpa pernah benar-benar mengakuinya.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah dia juga merasakan hal yang sama? Atau ini hanya cerita yang kubangun sendiri agar semuanya terasa masuk akal? Karena jujur saja, lebih mudah menyalahkan diriku sendiri daripada menerima kemungkinan bahwa ini hanyalah kebetulan yang terlalu sering terjadi.
Ada momen-momen ketika aku ingin menghilang saja dari ruang itu, memberi dia kembali kebebasan yang kulihat sebelumnya. Aku ingin melihatnya tertawa tanpa jeda, berbicara tanpa ragu, seperti sebelum aku datang. Tapi di sisi lain, ada bagian kecil dalam diriku yang justru ingin tetap tinggal, meski hanya untuk berdiri diam di sudut yang sama.
Ironis sekali rasanya, ingin mendekat tapi takut mengganggu. Ingin menjauh tapi takut kehilangan kesempatan yang bahkan belum tentu ada.
Dan begitulah setiap pertemuan terasa seperti latihan kecil tentang bagaimana menahan diri. Kami tidak pernah benar-benar berbicara tentang apa pun yang penting. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pengakuan, tidak ada kejelasan. Hanya kehadiran yang terasa terlalu besar untuk diabaikan, tapi terlalu rapuh untuk disentuh.
Mungkin dia diam bukan karena aku. Mungkin aku kikuk bukan karena dia. Tapi entah kenapa, setiap kali kami berada di tempat yang sama, ruang itu selalu terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.
Sunyi yang aneh..... karena dipenuhi banyak orang, tapi terasa hanya menyisakan dua orang yang sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!