Semua ini mungkin bermula dari cara kita berbicara yang tidak pernah benar-benar sinkron. Kalimat-kalimat yang keluar terdengar sederhana, tapi selalu menyisakan makna yang berbeda ketika sampai di telinga masing-masing. Kadang aku merasa kamu menyalakan sesuatu dalam diriku, api kecil yang awalnya hangat, lalu perlahan berubah menjadi emosi yang sulit dijinakkan. Anehnya, dalam setiap percakapan yang memanas itu, kamu selalu berhasil membuatku merasa seolah semuanya berawal dariku.
Seperti aku yang salah memahami. Aku yang terlalu jauh menafsirkan. Aku yang terlalu banyak berharap.
Dan sejak saat itu, senyumku berubah. Bukan hilang, tapi ragu. Seolah ada jeda kecil sebelum bibirku memutuskan untuk melengkung. Seolah ada suara kecil di kepala yang selalu bertanya, apakah ini masih benar? apakah ini masih nyata?
Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana tepatnya kita mulai tersesat. Yang kuingat hanya banyaknya percobaan yang tidak berhasil. Banyaknya usaha untuk kembali menemukan bahasa yang sama. Kita mencoba berkali-kali, seperti orang yang mencari jalan pulang di kota yang tiba-tiba terasa asing. Kadang merasa hampir sampai, lalu sadar bahwa kita hanya berputar di tempat yang sama.
Meski begitu, anehnya aku tidak pernah benar-benar percaya ini adalah akhir.
Ada bagian dari diriku yang terus meyakinkan bahwa cerita ini belum selesai. Bahwa mungkin kita hanya tersesat di bab yang sulit. Bahwa suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, kita akan duduk di tempat yang sama dan menertawakan semua kebingungan ini seperti cerita lama yang pernah terasa begitu berat.
Aku membayangkan hari itu dengan detail yang samar. Tidak jelas kapan, tidak jelas di mana, tapi terasa dekat. Kita tertawa lagi tanpa beban. Tangis yang dulu terasa besar tiba-tiba tampak kecil dari kejauhan. Seolah semua yang pernah melukai perlahan kehilangan tajinya.
Harapan itu terdengar naif, mungkin. Tapi ia tetap tinggal.
Di hari-hari ketika kamu tidak ada, kesedihan datang seperti tamu yang tidak diundang tapi sudah hafal letak kursi. Aku belajar duduk bersamanya, berbicara dengannya, bahkan mengerti ritmenya. Anehnya, aku tidak terlalu keberatan selama masih ada keyakinan kecil bahwa suatu hari kamu akan kembali duduk di ruangan yang sama.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sampai kapan?
Sampai aku menemukan cara untuk melupakanmu, mungkin. Atau sampai aku benar-benar kehabisan alasan untuk menunggu. Aku tidak tahu mana yang akan datang lebih dulu. Yang kutahu hanya perasaan ini berjalan pelan menuju tempat yang dalam, tempat di mana kecewa terasa seperti laut yang tidak terlihat ujungnya.
Dan jika suatu hari nanti kita benar-benar menjadi asing satu sama lain, asing pada kata bahagia yang dulu terasa dekat, aku tidak yakin apa yang akan kulakukan. Mungkin aku akan tetap percaya, diam-diam, bahwa di suatu waktu yang tidak kita ketahui, kita pernah hampir sampai.
Sialnya, keyakinan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Karena di balik semua kebingungan, ada satu kalimat yang terus berulang di kepalaku, seperti janji yang tidak pernah diucapkan tapi terus hidup, bahwa entah bagaimana, entah kapan, kita akan baik-baik saja lagi.
Dan mungkin, itulah satu-satunya hal yang membuatku tetap berjalan sampai hari ini.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!