Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja.
Padahal tidak pernah benar-benar biasa.
Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menutup jendela karena takut angin masuk terlalu kencang.
Bukan karena aku tidak ingin berbicara dengannya. Justru sebaliknya. Aku terlalu ingin, sampai-sampai tidak tahu harus mulai dari mana. Keinginan itu seperti gelombang besar yang tiba-tiba datang, sementara aku tidak tahu cara berenang. Jadi yang bisa kulakukan hanya berdiri diam di tepi, pura-pura tidak melihat laut sama sekali.
Aneh, ya. Saat dia ada di dekatku, aku seperti kehilangan kemampuan berbicara. Kata-kata yang biasanya mudah muncul tiba-tiba menghilang seperti kabut yang tersapu matahari pagi. Kepalaku kosong, tapi jantungku justru penuh suara. Degupnya cepat, tidak sabaran, seperti ingin mendahului semua kalimat yang belum sempat terucap. Aku sering berpikir, andai saja dia bisa mendengar suara jantungku saat itu, mungkin dia akan mengerti bahwa diamku bukan penolakan. Hanya kebingungan yang terlalu riuh.
Namun ketika dia tidak ada, ceritanya berbeda. Kehadirannya yang tadi terasa menyesakkan justru berubah menjadi kekosongan yang ganjil. Mataku mulai mencarinya tanpa sadar. Aku memperhatikan tempat-tempat yang biasanya ia lewati, waktu-waktu yang biasanya mempertemukan kami secara tidak sengaja. Ada ruang yang terasa kosong, padahal sebelumnya aku bahkan tidak menyadari ruang itu pernah terisi.
Di momen-momen seperti itu, aku menyesali setiap jawaban pendek yang pernah kuberikan. Setiap percakapan yang kupotong terlalu cepat. Setiap kesempatan kecil yang kubiarkan lewat begitu saja. Rasanya seperti membaca ulang pesan yang sudah terlanjur terkirim.... baru sadar ada banyak hal yang seharusnya bisa ditambahkan, tapi semuanya sudah terlambat.
Lucunya, saat akhirnya kami benar-benar mengobrol, dia tetap menjadi pihak yang memulai. Selalu dia yang membuka pintu. Sementara aku berdiri di ambang, ragu-ragu melangkah masuk. Aku menjawab, iya. Aku menanggapi, iya. Kami berbicara, iya. Tapi selalu ada bagian diriku yang tertinggal, yang tidak ikut hadir sepenuhnya dalam percakapan itu. Seperti ada jarak tipis yang tak terlihat, namun selalu terasa.
Bukan karena aku ingin menjaga jarak. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mendekat tanpa membuat semuanya terasa terlalu jelas.
Mungkin aku takut jika kata-kataku terlalu panjang, terlalu hangat, atau terlalu hidup, dia akan menyadari sesuatu yang bahkan aku sendiri belum berani akui. Bahwa di balik semua jawaban datar itu, ada perasaan yang bergerak diam-diam. Bahwa di balik sikap tenang itu, ada kegugupan yang tidak pernah benar-benar reda.
Dan akhirnya aku terjebak di antara dua keadaan yang saling bertolak belakang..... menjadi dingin saat dia ada, dan menjadi gelisah saat dia tidak ada.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!